Uang Panai’ Sampai Rental Tali Bra Emas

Tradisi panai’ seolah mengawinkan budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik.

Membincangkan tradisi Uang Panai' di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi Uang Panai’ di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

”Apakah pernah kau berfikir untuk menikah?” begitu pesan singkat yang diterima M Aan Mansyur dari ibunya, beberapa hari lalu. Cerita penulis dan penyair Makassar ini membuka perbincangan ‘Melihat Perasaan dengan Pikiran’ yakni tentang ‘uang panai’ digelar Komunitas Literasi Makassar, Selasa malam, di Katakerja.

Uang panai’ merupakan besaran uang yang diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita untuk keperluan pernikahan. Uang ini tidak terhitung mahar pernikahan, melainkan uang adat, namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati kedua belah pihak atau keluarga.

'posisi moral seorang penulis'

‘posisi moral seorang penulis’

Kembali ke pesan singkat sang ibu. Pertanyaan serupa mungkin Anda pernah dapatkan, apalagi jika usia Anda sudah dianggap cukup, studi sudah rampung, dan Anda sudah cukup mandiri alias punya penghasilan sendiri. Tapi itu saja belum cukup, sebab menikahi perempuan Bugis-Makassar berarti Anda harus siap dengan uang panai’. Bahkan, besarannya semakin hari semakin fantastis yang mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tak hanya memberatkan, tapi tradisi panai’ ini seolah menghilangkan nilai kesakralan sebuah pernikahan, mengubahnya sebagai ajang transaksional.

Membincangkan Tradisi Panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan Tradisi Panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Menurut Aan, tradisi panai’ membuat lelaki yang menjadi suami seperti punya properti bernama istri. Dimana semakin besar panai’ yang dibawa, seolah memberi kuasa makin besar kepada suami untuk bisa melakukan apapun kepada pasangannya. Di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, kata Aan ada banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan uang panai’.

Celakanya, jika ada yang melawan tradisi‘panai’ ini, cenderung dikucilkan dalam keluarga. Aan melanjutkan kisah, bagaimana ibunya ditentang oleh keluarga besarnya saat hendak menikahkan anak bungsu perempuannya di tahun 2007 lalu. “Kenapa kau jual murah anakmu?,” Aan menirukan perkataan keluarga besarnya kepada ibunya yang hanya meminta Rp 2,5 juta dari lelaki yang hendak menikahi putrinya. “Uang itu hanya untuk biaya sekali makan siang untuk keluarga dan undangan,” ungkap Aan.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Jika ibu Aan berhasil melawan, tapi tidak banyak orang yang tak sepakat bisa melawan. Mereka kadang akhirnya terjebak dalam pusaran tradisi yang makin tak masuk akal. Pernikahan yang transaksional juga menjadi ajang pamer materi, ikatan kekeluarga pudar karena semua harus berbayar, kerjasama dan kebersamaan makin terkikis. Lihatlah pernikahan hari ini, kata Aan, hanya untuk demi ‘dipamerkan’ beberapa jam, mempelai harus membayar belasan hingga puluhan juta hanya untuk make up semata.

Jadilah ajang pernikahan menjadi ruang perjodohan antara budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik. Masyarakat dengan latah meniru tanpa menyaring.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/irmawar

Lukman, mahasiswa Univesritas Islam Negeri Alauddin Makassar ini mengungkapkan, di kampungnya di Sidrap bahkan sudah ada tempat rental perhiasan yang akan laris manis jika ada pesta pernikahan. “Pesta pernikahan adalah ajang memamerkan perhiasan emas yang dipakai,” kata Lukman.

Masih di Sidrap, kata Eko Rusdianto, bahwa di daerah itu konon yang dipamerkan tak hanya perhiasan, tapi juga tali bra berlapis emas. “Kata teman saya bahkan ada tempat rental khusus tali bra berlapis emas,” ungkapnya. Begitulah pernikahan semakin rumit dan memberatkan.

Tapi, kata Eko, satu-satunya lelaki dalam forum yang telah menikah, besaran uang panai’ itu bukan harga mati, tapi sesuatu yang bisa dirundingkan. Pernyataan Eko ini berdasarkan pengalamannya melamar istrinya dahulu. Menurutnya, uang panai’ itu adalah cara laki-laki untuk memperlihatkan bahwa secara materi dia bisa membiaya anak perempuan orang lain.

Hari ini, tradisi panai’ kebanyakan sudah bergeser, kata Aan, pernikahan dan besaran panai’ menjadi jalan untuk menaikkan status sosial. Jadilah nilainya sangat besar dan memberatkan sehingga menjadi salah satu indikasi penyebab lelaki takut meminang perempuan Bugis-Makassar.

membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. foto/irmawar

membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. foto/irmawar

Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan pada akhirnya hubungan relasi  hari ini bergeser, karena terjadinya tumbukan-tumbukan kebudayaan dan identitas, dimana pernikahan kini menjadikan budaya kolektifitas harus ditanggung secara individulistik sehingga menjadi sangat mahal.  “Tradisi perkauman dan kebersamaan dalam pernikahan yang kolektif kini harus ditanggung sendiri.”

Jika berbicara budaya kolektif, kata Alwy, maka kita akan diperhadapkan pada nilai ‘malu’ yang sangat mahal. Dimana tak menjadi pertaruhan materi, tapi juga bisa dibayar dengan kematian. Alwy curiga, tradisi perkawinan hari ini  dimanfaatkan orang yang mencari kebangsawanan baru atau perkauman baru.

Semua dinilai dengan materi, mengakibatkan mekanisme tradisi yang selama ini punya fungsi sosial yang bagus kini pun bergeser. Dulu, kata Alwy, pernikahan menjadi ajang pembagian untuk menikmati protein secara merata.

kopi, pisang gorengnya mana?

kopi, pisang gorengnya mana?

Meski peserta yang ikut berbincang di Katakerja hanya belasan, obrolan yang direncanakan berlangsung dua jam menjadi lima jam. Semua peserta secara aktif berbagi informasi dan pengalaman seputar uang panai’ yang kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk disuarakan lewat tulisan. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  07 April 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/04/07/396876/Membincangkan-Tradisi-Uang-Panai

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: