Dunia Kekeluargaan dalam Pasar

Di pasar lokal, pedagang mengidentifikasi pembelinya dengan bahasa ibu mereka.

Aroma buroncong, kayu bakar, asap, dan matahari pagi yang menyatu. Perut keroncongan memaksa saya langsung menyambar buroncong yang baru saja diangkat dengan gancu dari pembakaran. Panas yang masih mengepul dari penganan khas Makassar ini membuat saya sibuk meniup-niup, sebelum mengigitnya. Aroma kelapa yang terbakar dari buroncong begitu wangi dan menggoda.

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Penjual Cakar di Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Saya tidak sendiri, ada beberapa pembeli lain yang juga berdiri di sekitar gerobak dorong buroncong. Satu, dua, tiga buroncong yang berpindah ke dalam perut saya. Cukup memberi tenaga untuk berkeliling Pasar Cidu yang berada di Kecamatan Ujung Tanah. Saya menyusuri Jalan Tinumbu untuk mencari teman-teman dari Katakerja, di kiri kanan jalan, berjejer lapak-lapak yang didominasi penjual cakar—pakaian bekas pakai. “Buka baru, buka baru,” kata beberapa pedagang. Buka baru—adalah istilah barang yang baru dibongkar dari karung.

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Adegan pasar Zainal Siko di Katakerja. Foto/Irmawar

Berdelapan, bersama teman-teman dari Katakerja—sebuah komunitas ruang baca— dan Active Society Institute (AcSI) kami menyusuri lorong-lorong Pasar Cidu yang menjadi bagian dari acara Jappa-jappa ri Pasara—jalan-jalan di pasar—Ahad pagi lalu. Penulis/penyair M Aan Mansyur dan seorang pemerhati pasar lokal Zainal Siko turut dalam acara jalan-jalan kali ini.

Pasar Cidu adalah satu dari empat pasar utama di Makassar. Cidu sendiri adalah bahasa Makassar untuk buah nangka. Menurut Zainal, pemberian nama Pasar Cidu ini, karena di kawasan ini dulu banyak tumbuh pohon nangka. Kawasan Pasar Cidu, dulunya adalah gusung yang menjadi tempat persinggahan orang-orang pulau, pertemuan terjadi begitu pula transaksi. Seperti namanya, Pasar Cidu identik sebagai pasar buah.

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Tak ada nangka, pisang pun jadi. Foto/Irmawar

Pasar Cidu ini kemudian melahirkan Pasar Panampu dan Pasar Tinumbu. “Jadi ada pedagang-pedagang ‘pemburu dollar’ yang berjualan pagi di Cidu, siang sampai sore di Panampu, lalu lanjut malam di Tinumbu,” ungkap Enal—sapaan akrab Zainal.

Selain Cidu, tiga pasar utama lainnya adalah Pasar Butung yang merupakan pasar tertua di Makassar berdiri 1917, disebut Butung karena dulu ada banyak orang-orang Buton yang identik dengan kulit hitam. Lalu ada Pasar Kalimbu yang berarti berselimut atau bersarung, dan memang benar, di pasar ini kita akan menemukan banyak orang-orang yang berjualan sambil bersarung. Sebab transaksi di pasar ini sudah berlangsung sejak pukul 02.00 hingga pagi hari. Lalu ada Pasar Lette, yang terletak di Kampung Lette, lette—sendiri berarti berpindah-pindah.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Lette ini melahirkan Pasar Sambung Jawa. Pasar Butung yang identik menjual garmen kemudian melahirkan Pasar Sentral (sekarang dikenal sebagai Makassar Mall), Pasar Sentral ini juga melahirkan Pasar Bacan. Sedangkan Pasar Kalimbu yang berdiri 1920 adalah pasar tertua kedua di Makassar, kemudian melahirkan Pasar Terong yang barang dagangannya didominasi sayur-mayur seperti induknya.

Pasar Terong berdiri pada 1960, kala itu pagandeng dan palapara dari Pasar Kalimbu berkembang sepanjang Jalan Terong. Dalam buku ‘Pasar Terong Makassar: Dunia Dalam Kota’ menyebutkan, Pasar Terong pada tahun 1964 masih berupa rawa-rawa, jika hujan tiba maka kawasan pasar akan tergenang air. Tahun 1970, lokasi bekas kampung warga, oleh pemerintah kemudian dibangun pasar permanen berupa front toko dan los berbentuk huruf U. Setahun kemudian, Pasar Terong berfungsi permanen dan diresmikan oleh Wali Kota Makassar M Daeng Patompo.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Cabai, tomat, dan jeruk nipis adalah komoditi utama yang bisa ditemukan di Pasar Terong. Enal, yang juga pendamping pedagang Pasar Terong mengungkapkan jika jeruk nipis tak ada lagi di Terong, sering kali jeruk nipis dari Makassar yang sudah tiba di Jakarta dikirim lagi ke Makassar. Masyarakat Makassar memang akan sulit menikmati makanan tanpa jeruk nipis, sebab hampir semua makanan khasnya menggunakan jeruk nipis, sebut saja coto, konro, sop saudara, ikan bakar, sampai nasi goreng.

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Pasar Cidu Makassar. Foto/Irmawar

Menurut Enal, pasar itu lahir dari budaya kekeluargaan. Dimana orang-orang yang terlibat, mulai dari pedagang hingga pembeli hidup secara kekeluargaan. Enal yang juga anggota divisi kota di AcSI ini mengungkapkan budaya kekeluargaan ini bisa dilihat saat melakukan transaksi, pedagang biasanya mulai menawarkan barang menggunakan bahasa ibu mereka (misalnya Bugis/Makassar), biasanya pembeli yang masih satu suku akan menjawab dengan bahasa lokal. Tapi jika tak mendapat tanggapan, maka sang pedagang akan menggunakan bahasa Indonesia. Dari bahasa inilah, pedagang mengidentifikasi pembelinya.

Di era supermaket dan minimarket mengepung Kota Makassar, sekelompok anak muda kembali menjelajah lorong-lorong pasar. Melakukan interaksi kekeluargaan. Ada tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Dan hanya dengan selembar uang 50 ribuan, teman-teman dari Katakerja membawa pulang hasil belanjaan, dimasak untuk makan siang. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

Gogoso Khas Pasar Kampung Baru

Aroma daun pisang yang terbakar sungguh menggoda pagi kami. Segelas teh susu dan gogoso—penganan khas Makassar—adalah sarapan kedua saya, Rabu pagi lalu, di Pasar Kampung Baru, Kecamatan Wajo, Makassar. Sebab, saya sudah sarapan bubur ayam sebelum keluar rumah.

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Gogoso Pasar Kampung Baru Makassar. Foto/Irmawar

Membuka daun pisang yang membalut, lalu pada gigitan pertama, aroma wangi daun cemangi langsung memenuhi mulut. Gurih beras ketan bercampur abon ikan tuna adalah perpaduan yang sangat pas.

Gogoso buatan Siti Kasturi adalah salah satu jajanan khas di Pasar Kampung Baru Makassar, yang bersebelahan dengan Fort Rotterdam. “Saya sudah lebih dua puluh tahun berjualan gogoso,” ungkap perempuan berusia 80 tahun ini.

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Siti Kasturi dan Gogoso di Pasar Kampung Baru. Foto/Irmawar

Turti—sapaan Kasturi—mengaku, sudah punya konsumen sendiri. Dalam sehari, rata-rata ia menjual 300 biji gogoso yang dihargai Rp 7 ribu per biji. Ia akan membuat gogoso lebih banyak dihari Sabtu dan Minggu, karena konsumennya banyak juga orang-orang yang habis olahraga di Taman Macan. “Sebelum jam sepuluh pagi, dagangan saya sudah habis,” ungkap Turi, sembari mengipas pangganan gogosonya. (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  13 Januari 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/01/13/391231/Dunia-Kekeluargaan-dalam-Pasar

 

 

 

Advertisements

Memori Penghujung Musim Panas di Puncak Fuji

Bagi warga Jepang, mendaki Fuji adalah bagian dari wisata.

Malam berselimut kabut, ditemani gelap, dingin dan gigil. Hujan mengiringi langkah kami berlima, saat bertolak dari Stasiun 5 rute Yoshida, sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Penghujung musim panas, September lalu, kami mencoba menaklukkan puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yakni 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebelum mendaki, kami harus membayar restribusi 1.000 Yen atau Rp 115 ribu per orang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Jaket dan mantel membalut tubuh kami, tak ketinggalan headlamp yang siaga di kepala masing-masing. Gelap betul-betul menyelimuti pandangan, tanpa cahaya headlamp, hanya gulita yang kami temukan. Jangankan panorama, bulan dan bintang-bintang pun bersembunyi pada malam. Gelap membuat kami betul-betul tergantung pada cahaya untuk menuntun kami mengikuti jejak jalur pendakian.

Baru sekitar 500 meter kami berjalan menikmati dingin, salah satu teman langsung mengingatkan agar kami tak berjalan di tepian. Tanah berpasir sangat rawan longsor. Setelah melalui Stasiun 6 yang merupakan pusat bimbingan keselamatan. Medan pendakian menanti. Saatnya untuk mengatur pernafasan. Setiap kali menghirup dan melepas udara, maka mulut akan mengepulkan asap. Salah satu sensasi dari udara dingin. Tapi segar memenuhi paru-paru dan pikiran ini.

Dari kejauhan, kerlap-kerlip deretan cahaya memanjakan mata. Memberikan semangat untuk terus mendaki jalan yang semakin terjal. Semula saya mengira, itu adalah cahaya-cahaya tenda para pendaki. Ternyata, cahaya itu adalah deretan pondok penginapan. Hal berbeda yang saya temukan, saat mendaki gunung di Indonesia. Di Fuji, nyaris tak ada ruang untuk membangun tenda.

Sejumlah pondok yang tadi tampak hanya berupa cahaya, kami temukan saat mendekati Stasiun 7. Pondok ini menjual berbagai kebutuhan para pendaki, seperti tongkat, mantel, air minum, makanan. Kebanyakan, pendaki sudah membeli tongkat sejak di tempat star, Stasiun 5. Tongkat ini tak hanya media untuk berbagi beban tubuh, tapi juga media untuk menorehkan stempel dari setiap stasiun. Setiap stempel, harus ditebus senilai 300 yen setara dengan Rp 35 ribu.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Dingin merasuki tulang-tulang dan mulai membekukan langkah kaki ini. Tapi semangat untuk mencapai puncak, serta pendaki-pendaki lain yang terus berjalan membuat saya mengumpulkan semangat melawan gigil dan menembus badai yang mengancam perjalan kami. Hujan kembali mengguyur, saat kami sampai di Stasiun 8, di ketinggian 3.100 meter. Badai membuat saya terpisah dari kelompok. Dingin yang sudah mencapai minus 3 derajat Celcius, membuat kami menghentikan perjalanan. Cuaca yang kurang bersahabat, membuat pendakian menuju puncak ditutup.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Rencana untuk menunggu sunrise di puncak Fuji batal. Kami memilih menginap di Gonsu-muro, tarif yang cukup sensasional, 7.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu per orang permalam. Dengan seharga itu, kami hanya mendapat ruang untuk berbaring seukuran tubuh beralaskan papan. Beruntung kami membawa sleeping bag untuk memberikan kehangatan. Kami hanya sempat istirahat dua jam, karena kami baru masuk pondok pukul 02.00 WIT dan harus segera check out pada pukul 05.00 WIT.

Alarm berbunyi, memaksa kami bangun dan melawan dingin. Kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian. Kabut pagi masih menyelimuti sebagian punggung gunung. Kami kembali menebus kabut dan melawan dingin. Tapi panas tubuh saya tak kuasa mengalahkan dingin, membuat wajah dan tangan saya membeku. Badai dan hujan terus menghadang perjalanan kami menuju puncak. Setelah berjalan empat jam, kami baru bisa tiba di puncak yang juga tetap berselimut kabut.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Dokumentasi Irma Tambunan

Cuaca yang kurang bersahabat, membuat kami tak bisa berlama-lama. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun segera turun gunung. Tubuh saya mulai “memprotes”, terutama kaki saya yang makin berat melangkah. Cedera kaki tak terhindarkan akibat keseleo. Agar sakit tak begitu terasa, saya terpaksa berjalan mundur.

***

Gunung Fuji memiliki daya tarik abadi dan dianggap sebagai lambang Jepang. Setiap tahun, banyak warga Jepang dan orang luar yang mendaki. Pemandangan Gunung Fuji konon mampu menenangkan jiwa manusia, dan konon telah menjadi objek ibadah selama berabad-abad tahun lalu. Sebelum abad ke-17, orang-orang dilarang menginjakkan kaki di Gunung Fuji. Khusus perempuan, tidak diizinkan melakukannya sampai awal abad ke-19.

Kini, siapapun diperbolehkan mendaki Gunung Fuji. Tak hanya orang dewasa, banyak anak-anak juga turut serta untuk mencapai puncak Fuji. Bahkan orang-orang tua renta sekalipun tampak masih sangat bersemangat untuk mencapai puncak. Saat musim panas, mendaki Fuji adalah bagian dari kegiatan wisata di Jepang.

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pendakian di Gunung Fuji, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan Gunung Fuji telah menjadi subyek dari banyak sekali karya seni, salah satu yang sangat terkenal adalah Ukiyoe (kayu-blok cetakan) dari Katsushika Hokusai (1760-1849). Tercatat ada 36 karya yang tercipta hingga 1831.

Gunung Fuji bisa dilihat dari berbagai aspek, salah satu yang mempengaruhi adalah musim. Konon, Gunung Fuji tidak pernah menunjukkan wajah yang sama dua kali. Wajahnya bisa ditentukan oleh lokasi, sudut, musim, dan waktu. (*)(Koran Tempo Makassar, edisi  5 Desember 2014)

Tips Menuju Puncak Fuji Dengan Aman

  • Kondisi suhu dan cuaca di gunung rentan terhadap perubahan drastis. Jadi sebaiknya tetap siapkan pakaian dan peralatan untuk cuaca dingin dan hujan.
  • Jika langit menunjukkan tanda-tanda petir, berlindunglah di salah satu pondok samapi badai berlalu.
  • Jangan menyimpang dari jalur hiking, sebab sangat berbahaya, tak hanya bisa membuat tersesat tapi juga bisa menyebabkan batu jatuh.
  • Pilihlah daerah aman untuk beristirahat, jangan berhenti di jalan sempit, waspadai batu jatuh.
  • Jika merasa kurang sehat, jangan paksakan untuk melanjutkan pendakian. Terutama jika merasa mengalami gejala penyakit ketinggian.
  • Jika Anda naik berkelompok, jangan terpisah dari kelompoknya.
  • Pastikan Anda membawa air minum yang cukup.
  • Siapkan bekal yang cukup, tapi jangan sampai bawaan Anda terlalu berat.
  • Siapkan uang receh, ketika menggunakan toilet, tinggalkanlah Rp 200 yen atau Rp 23 ribu untuk pemeliharaan toilet di Mt.Fuji.
  • Jangan meninggalkan sampah Anda.

(imhe)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/menikmati-tokyo-dari-ketinggian/

Menikmati Tokyo dari Ketinggian

Gratis di Tokyo Tocho. Yang bikin jantung berdesir adalah Tokyo Tower.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Berwisata ke Negeri Sakura, rasanya tak lengkap jika tak menikmati pemandangan Kota Tokyo dari ketinggian. Ada tiga tempat yang direkomendasikan yakni Tokyo Tower, Tokyo Sky Tree, dan Tokyo Metropolitan Government Building. Dalam kunjungan kali kedua saya ke Jepang, September lalu, saya memilih menikmati pemandangan malam dari Tokyo Metropolitan Government—salah satu gedung perkantoran pemerintah yang terletak di kawasan Shinjuku—yang biasa disebut Tokyo Tocho.

Kita dengan mudah mengenali, Tokyo Metropolitan Goverment tampak menonjol di antara gedung-gedung tinggi di Shinjuku. Desainnya yang khas menghadirkan suasana, serasa kami sedang berada dalam film-film fiksi sains. Tempat yang asyik untuk bermain petak umpet. Tapi karena malam sudah cukup larut, kami tiba pukul 20.30, artinya kami cuma punya waktu 2 jam 30 menit untuk bisa menikmati pemandangan malam Tokyo dari ketinggian. Waktu buka observatory mulai 09.30-23.00.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Beruntung, malam itu, antrian tak begitu panjang. Untuk mencapai tempat observasi di lantai 45, kami naik lift dari lantai 1. Sebelum masuk lift, ada petugas yang mengatur dan memeriksa setiap pengunjung. Seorang petugas perempuan juga menemani saat kami melesat ke ketinggian dengan lift. Sesampai di tempat observasi, petugas akan mengarahkan kami, agar tidak mengganggu pengunjung lain yang hendak turun. Tak hanya sigap, para petugasnya juga ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung.

Salah satu alasan saya memilih Tokyo Metropolitan Government, karena pengunjung tak dipungut biaya alias gratis. Di lantai 45, terdapat temboshitsu—ruang berdinding kaca, dari sini kita bisa menikmati panorama Kota Tokyo dari ketinggian lebih dari 200 meter. Kita dapat memutari ruangan untuk menikmati pemandangan Tokyo selebar 360 derajat. Di arah timur laut, kita bisa melihat Tokyo Sky Tree dan Cocoon Tower dari Mode Gakuen. Kemudian di arah tenggara, kami bisa melihat keberadaan Tokyo Tower. Konon, jika hari cerah, kita bisa melihat Gunung Fuji yang berselimut salju dari arah barat.

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Pemandangan Kota Tokyo dari lantai 45 Tokyo Metropolitan Government Building. FOTO/Irmawar

Di tempat ini, kami bertemu banyak turis asing dan warga lokal, seperti kami, mereka tak sekedar menikmati pemandangan, tapi juga sibuk mengabadikannya dengan kamera dan ponsel. Jika lelah, lapar dan haus, di dalam temboshitsu terdapat kafe. Juga terdapat beberapa toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh.

Jika ingin melihat pemandangan yang lebih luas lagi, Anda bisa mendatangi Tokyo Sky Tree yang memiliki ketinggian 634 meter. Bangunan ini disebut-sebut sebagai gedung tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa yang memiliki ketinggian 829 meter. Landmark baru kota Tokyo ini dibangun 2008 lalu, konon proyek ini menghabiskan biaya hampir 40 miliar Yen atau setara dengan Rp 6,8 triliun.

Tokyo Sky Tree ini tampak sangat dekat dari kawasan Asakusa. Untuk bisa menikmati pemandangan dari atas, pengunjung terlebih dahulu harus membeli tiket di lantai 5. Untuk sampai ke Tembo Deck di ketinggian 350 meter, kita harus membayar tiket seharga 2.060 Yen atau Rp 236 ribu, lalu untuk sampai ke Tembo Galeria ada biaya tambahan 1.030 Yen atau Rp 118 ribu. Tapi karena budget terbatas, saya mengurunkan niat untuk naik lebih tinggi.

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Sky Free, terletak di daerah Oshiage, Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo Tower menawarkan biaya yang lebih murah, dimana biaya dibagi berdasarkan kategori usia. Untuk sampai pada lantai observasi utama di ketinggian 150 meter, biayanya 300-800 Yen atau setara dengan Rp 34 ribu- 92 ribu. Lalu untuk naik ke lantai observasi khusus di ketinggian 250 meter, harus menambah biaya 350-600 Yen atau Rp 40 ribu-69 ribu.

Hal yang mengasyikan dari Tokyo Tower, ada beberapa lantai di dek atas yang berupa kaca transparan. Sehingga perlu nyali yang cukup untuk melihat ke bawah. Atau jika ingin mencoba sensasi berbeda, merasakan angin bertiup sambil menikmati pemandangan Kota Tokyo dari atas, cobalah menggunakan tangga untuk sampai ke dek tengah di ketinggian 200 meter.

Andai gedung-gedung tinggi di Makassar juga menyiapkan layanan serupa. Sehingga masyarakat bisa melihat sisi lain pemandangan kotanya dari atas. Saya kira ada banyak gedung-gedung tinggi, di antaranya Menara Bosowa, Menara Phinisi, atau Tower Balai Kota Makassar. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

Jalan Jalur Kereta

Tokyo Metropolitan Government atau Tokyo Tocho terletak di kawasan Shinjuku. Stasiun terdekat adalah Stasiun JR Shinjuku, pilih pintu keluar di sebelah barat, dari sini Anda cukup perjalan kaki selama sepuluh menit. Tokyo Tocho juga bisa ditempuh jalan kaki dari Tochomae Stasiun, jika menggunakan Toei Oedo Line.

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Membeli tiket kereta di Tokyo. FOTO/Irmawar

Kemudian untuk sampai ke Tokyo Sky Tree di kawasan Oshiage, dari Shinjuku bisa menggunakan Oedo Line dan turun di stasiun Kuramae, selanjutnya pindah kereta ke jalur Asakusa, lalu Anda tinggal berjalan kaki sekitar lima menit. Kemudian dari Shibuya, akses kereta langsung menggunakan Akasuka Line dan Hanzomon Line.

Selanjutnya, Tokyo Tower, Anda bisa turun dibeberapa stasiun terdekat yakni Akabanebashi, Kamiyacho, Onarimon, Daimon, dan Hammamatsucho. Dari stasiun ini, Anda cukup berjalan kaki sekitar sepuluh menit.

Tokyo adalah salah satu kota yang terkenal dengan jalur keretanya yang rumit. Tapi Anda tak perlu khawatir, begitu mendarat di Bandara Udara Internasional Narita atau Haneda, jangan lupa mengambil peta jalur kereta yang disiapkan secara gratis. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  21 November 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merawat-tradisi-di-asakusa/

Merawat Tradisi di Asakusa

Meski dikepung oleh kehidupan yang serba modern, tapi masyarakat Tokyo tetap merawat tradisinya.

Tokyo. FOTO/Irmawar

Tokyo. FOTO/Irmawar

Suasana riuh lalu lalang manusia menyambut, saat kami keluar dari stasiun subway di kawasan Asakusa, Tokyo, Jepang. Tempat ini adalah salah satu kawasan paling populer bagi wisatawan. Terdapat pintu gerbang besar Kaminarimon yang legendaris dan Kuil Sensoji—memiliki lampion terbesar di Tokyo.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Pertengahan September lalu, beberapa jam sebelum terbang ke Indonesia, saya menyempatkan datang ke Asakusa. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini, kali pertama 2011 lalu. Bagi Anda yang suka belanja, menyusuri Jalan Nakamise menjadi hal menyenangkan. Sepanjang jalan, kurang lebih 500 meter ada banyak toko yang berjualan souvenir seperti yukata, kimono, baju kaos, gantungan kunci, makanan tradisional Jepang seperti Ningyoyaki (sejenis kue kacang merah). Konon, toko-toko ini sudah ada sejak abad 18, saat itu orang mulai diizinkan untuk berjualan berbagai macam barang untuk keperluan peziarah.

Asakusa adalah pusat hiburan di Tokyo. Pada masa Edo, daerah ini menjadi pusat pertunjukan teater Kabuki dan pertunjukan modern seperti bioskop. Saat perang Dunia II terjadi, kawasan ini musnah, hanya menyisakan Kuil Sensoji, yang kemudian dibangun ulang.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sebelum menjelajah kawasan kuil lebih jauh, bersama kawan saya dari Jambi. Menikmati es krim rasa anggur adalah pilihan paling tepat, menemani siang yang cukup panas. Untuk menikmati sebuah es krim berwarna anggur ini, kami harus menebusnya seharga 350 Yen atau setara dengan Rp 40 ribu. Saya kira harga yang pas untuk mendapatkan kesegaran buah anggur yang begitu lembut di lidah. Yummy.

Asakusa adalah salah satu pusat kota tua di Tokyo. Selain wisatawan asing, di tempat ini, kita bisa bertemu banyak warga Tokyo yang mengenakan kimono, mulai dari yang bermotif modern hingga tradisional. Banyak wisatawan yang tidak melewatkan untuk berfoto bersama perempuan-perempuan Jepang ini dengan latar Kuil Sensoji.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Sensoji adalah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Di tempat ini, kita bisa melihat tradisi masih dirawat oleh masyarakat Jepang. Mereka yang datang tak sekedar berwisata, sebagian datang untuk beribadah. Kita bisa melihat serangkaian prosesi ibadah. Mulai dari mencuci tangan, mulut, bahkan ada yang meminum sumber air yang terdapat patung Sun Go Kung. Di dalam kuil utama, orang-orang berdoa, melempar koin, membakar lilin, serta mengambil ramalan. Dan saya sibuk mengambil gambar mereka menggunakan ponsel.

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Setelah puas mengambil gambar, saya kembali menyusuri Kaminarimon Gate. Karena rasa haus kembali menyerang, sekarang giliran es krim teh hijau menjadi pilihan saya. Awalnya saya mengerutkan wajah, tapi lama-lama lidah saya terbiasa dengan rasa tehnya yang sangat kuat.

 

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Kuil Sensoji, Jepang. FOTO/Irmawar

Bagi Anda yang tidak cukup kuat menjelajahi Asakusa dengan berjalan kaki. Anda bisa menyewa Jinrikisha—becak berkapasitas dua orang yang ditarik oleh seorang lelaki. Harganya lumayan, saya sempat ditawari dengan harga 4500 Yen setara dengan Rp 500 ribu.

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Asakusa, Jepang. FOTO/Irmawar

Kegiatan merawat tradisi tak hanya saya temukan di Asakusa. Saban sore, begitu kelas di The National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS)—sebuah lembaga riset dan pendidikan pascasarjana milik pemerintah Jepang—tempat pelaksanaan Pertemuan Jurnalis Sains Asia. Saya selalu singgah Kediaman Nogi—salah satu aset budaya—konon tempat yang terletak di kawasan Akasaka, Tokyo ini adalah rumah seorang samurai. Sore itu, sebelum matahari terbenam, saya mendapati mereka menggelar upacara yang sepertinya hanya diikuti oleh anggota keluarga, jumlah mereka tak lebih dari sepuluh orang. Meski Tokyo adalah salah satu kota metropolitan, tapi di tengah kehidupan modern, mereka tetap merawat tradisinya. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  31 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/kota-sahabat-pejalan-kaki/

 

 

 

Kota Sahabat Pejalan Kaki

Bukan hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga sangat mendukung kalangan disabled.

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Roponggi, Tokyo, Japan. FOTO/Irmawar

Merasakan kenyamanan berjalan kaki adalah salah satu kemewahan yang saya temukan di Jepang, awal September lalu. Jalur khusus pejalan kaki akan kita temukan disemua sisi ruas jalan. Tak peduli jalan utama maupun jalan-jalan kecil. Setiap hari, berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap, menuju GRIPS—perguruan tinggi sekaligus lembaga kajian di Tokyo—tempat saya belajar, adalah hal yang menyenangkan. Meski menggunakan sepatu high heels, saya nyaris tak mengalami kesulitan.

 

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. FOTO/Irmawar

Di jalur khusus para pejalan kaki, kaki saya mendapatkan kemerdekaan melangkah. Di jalur ini, pejalan kaki mendapatkan prioritas utama. Jika ada kendaraan yang hendak melintas, mobil itu harus menunggu hingga tak ada lagi pejalan kaki yang melintas di jalur tersebut. Selama menunggu, pengendara mobil tidak akan membunyikan klakson atau meninggikan bunyi mesin kendaraannya.

Jalan-jalan di Tokyo dan kota-kota besar lain di Jepang, tak hanya ramah kepada pejalan kaki, tapi juga bagi orang-orang yang secara fisik memiliki keterbatasan. Pengguna kursi roda bisa mandiri melajukan kursinya tanpa bantuan orang lain, karena jalan-jalannya sangat mendukung. Seluruh fasilitas umum di Jepang sangat mendukung kalangan disabled. Tak hanya jalan, seluruh moda transportasi umum juga memungkinkan bagi orang cacat.

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya nyaman di jalan, di Tokyo saya juga menemukan keteraturan dan kenyamanan transportasi. Meski sistem keretanya tergolong rumit, tapi pemerintahnya berhasil mengintegrasikan sistem transportasi masalnya dengan kegiatan berjalan kaki.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Selama berada di Tokyo, sedikitnya dalam sehari, jika diakumulasikan, saya berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer. Hal yang belum tentu saya lakukan di Makassar, kecuali saat-saat tertentu khusus untuk berolahraga. Sistem transportasi, memaksa warganya untuk berjalan kaki ke stasiun. Jika jaraknya cukup jauh, warga Jepang biasanya akan menggunakan sepeda. Mungkin, karena banyak berjalan kaki, warga Jepang berumur panjang.

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Suasana jalanan di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kebiasaan berjalan kaki bagi warga Jepang, membuat kota ini dijuluki kota sejuta pejalan kaki. Saya menyaksikan pemadangan ini dipersimpangan Shibuya, Tokyo. Di wilayah ini, kita akan menemukan kerumunan orang yang begitu banyak saat berjalan kaki dan mulai menyeberang. Sedikitnya ada delapan persimpangan saling silang. Yang akan tiba-tiba kosong, lalu hanya hitungan tiga menit akan dipenuhi lautan manusia. Jika Anda berjalan bersama teman, berhati-hatilah, sering kali kita akan terpisah karena banyak dan begitu cepatnya orang-orang berjalan. (*)

Antrian Foto di Patung Hachiko

Di antara saling silang keramaian jalan di Shibuya yang dipenuhi lautan manusia. Salah satu sudut yang juga ramai dikunjungi adalah tempat patung Hachiko berada. Hanya sekitar 30 meter dari persimpangan depalan Shibuya. Patung Hachiko adalah sebuah simbol kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Pengunjung antre untuk berpose di patung anjing Hachiko, di Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Keberadaan patung ini adalah sebuah kisah nyata. Dulu di stasiun Shibuya ini, Hachiko setiap hari akan bertemu tuannya Profesor Ueno di Universitas Tokyo. Hingga suatu hari di tahun 1925, sang majikan tidak pernah muncul karena sakit dan meninggal. Namun, Hachiko tetap setia datang dan menunggu selama sepuluh tahun hingga akhir tewas, tepatnya 8 maret 1935. Cerita Hachiko ini sangat terkenal, sehingga untuk berfoto saja, kita harus antri. (*) (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

Sekali Mandi di Haneda Rp 120 Ribu

Sekitar tujuh jam kemudian, pesawat yang menerbangkan kami dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, tiba di Bandara International Haneda, Tokyo. Malam yang sudah sangat larut membuat kami menunda perjalanan kami menuju Yodhida, titik awal pendakian menuju puncak Gunung Fuji. Satu-satunya pilihan saya dan teman-teman adalah tidur di bandara Haneda.

Tak hanya kami berlima, ada banyak penumpang yang memilih menginap di bandara malam itu. Dan hampir setiap malam, kursi ruang tunggu bandara disulap menjadi tempat tidur bagi para penumpang yang kemalaman. Pemandangan ini sepertinya sudah menjadi hal biasa, karena petugas sama sekali tak mengusik, bahkan tetap siaga 24 jam. jadi jangan khawatir terlelap tidur, dijamin barang-barang bawaan Anda juga akan aman.

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Kamar mandi berbayar 1030 yen di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya kalangan backpacker seperti kami, kalangan eksekutif muda juga banyak yang memilih tidur di bandara. Bandara Haneda sepertinya memang sudah didesain, agar penumpang bisa menginap jika kemalaman. Lihatlah saja salah satu fasilitasnya, di bandara ini disiapkan shower rooms alias kamar mandi. Jadi jangan sekali-kali mandi di toilet, karena pasti akan kena denda.

Sekali mandi shower rooms, saya harus merogoh kocek 1.030 yen atau setara dengan Rp 118.450. Itupun, waktunya dibatasi hanya 30 menit. Jika lewat, meski semenit saja, akan didenda 540 yen. Baru kali ini saya mandi dengan bayaran semahal ini. Terpaksa saya lakukan, selain karena penasaran untuk mencoba dan mengetahui fasilitasnya, saya akan lebih memilih tidak sarapan daripada tidak mandi pagi. (Koran Tempo Makassar, edisi  1 Oktober 2014)

https://shamawar.wordpress.com/2015/01/31/merah-anggur-menghias-fuefuki/

Merah Anggur Menghias Fuefuki

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. Bisa beralih pink pada bulan April.

Harumnya anggur hadir di seluruh Kota Fuefuki, Prefektur Yamanashi, yang terletak di tengah-tengah Jepang. Merahnya anggur terlihat dimana-mana, bergelantungan di halaman-halaman rumah warga.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Sejak awal Agustus hingga pertengahan November mendatang adalah musim pemetikan anggur. Saanya bagi warga Jepang untuk menggelar pesta kebun anggur, seperti di kebun Tsu Ka Ha Ra, meski kesulitan berkomunikasi, kami mendapat jamuan yang sangat ramah. “Arigato gozaimasu”, kalimat yang paling sering saya ucapkan.

Akhir pekan seperti saat ini, warga Jepang memanfaatkan untuk liburan keluarga.Salah satu tempat favorit yang menjadi pilihan adalah kebun anggur. Seperti Watanabe yang datang bersama lima anggota keluarganya. Di kebun ini, setiap pengunjung bisa memetik anggur sendiri, lalu memakannya sambil menikmati teduhnya beratap rambatan ranting-ranting anggur.

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Udara di kawasan kebun anggur sangat segar, suasana ini sepertinya sengaja diciptakan. Karena setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotornya ke kawasan kebun. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di pusat oleh-oleh Misakanoen. Dari sini, pengunjung akan diangkut dengan bis khusus menuju kebun anggur. Pemilik kebun biasanya sudah menyiapkan gunting untuk memetik anggur, serta menyusun kursi-kursi di bawah pohon anggur.

Untuk masuk ke kebun anggur, setiap orang harus membeli tiket terlebih dahulu di kawasan Misakanoen. Harga selembar tiket untuk anak-anak 450 yen-650 yen atau setara dengan Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Untuk orang dewasa 880-1.200 yen atau setara dengan Rp 92 ribu-Rp 138 ribu. Dengan tiket ini, kita bisa makan anggur sepuasnya di areal kebun dan tidak boleh dibawa pulang. Jika ingin menjadikannya oleh-oleh, harus membeli sendiri.

Hamparan kebun anggur memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Kota Fuefuki adalah penghasil buah anggur dan peach terbesar di Jepang. Di kota ini, kita dapat menikmati beragam jenis anggur seperti Kaiji, Kyohou, dan Konsu. Tak hanya dinikmati dalam keadaan segar, di Fuefuki, kita dapat menemukan banyak tempat pembuatan wine. Khusus untuk Wine Koshu yang biasanya mulai diproduksi pada bulan November.

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Ekstrak buah Anggur di Kota Fuefuki, Jepang. FOTO/Irmawar

Tak hanya memetik buah anggur dan menikmati manisnya yang segar. Santap siang kami kali ini ditemani dengan wine. Ini kali pertama saya meminum wine dengan jumlah cukup banyak, tapi saya tak perlu khawatir karena tidak akan memabukkan. Grape Rouge yang diproduksi di Fuefuki adalah wine tanpa alkohol. Maka jadilah saya menuangkan wine lagi ke cangkir saya.

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Kota Fuefuki penghasil buah peach dan anggur terbesar di Jepang. FOTO/Irmawar

Belum lagi musim anggur berakhir, buah kesemak juga mengeluarkan buahnya pada akhir September hingga awal November. Fuyugaki adalah salah satu jenis kesemak andalan, buahnya besar dan rasanya manis. Penasaran ingin mencobanya.

Sebelum musim anggur, awal Juli hingga akhir Agustus di Feufuki adalah musim pemetikan buah peach. Seperti pesta kebun anggur, saat musim peach berbuah juga digelar pesta kebun peach. Tarif di kawasan Misakanoen adalah 880 yen hingga 1.200 yen. Pada akhir tahun, kita dapat menikmati stroberi, makan sepuasnya di dalam rumah kaca hingga awal Mei.

Tak hanya terkenal sebagai penghasil anggur dan peach terbesar di Jepang. Fuefuki juga dikenal sebagai kampung permandian mata air panas. Air yang sangat panas keluar dari mata air dengan suhu mencapai 68 derajat celsius, dengan volume air yang banyak. Pada musim dingin, permandian air panas menjadi tempat untuk melepaskan lelah pikiran maupun fisik dengan berendam di permandian mata air panas ini.

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Permandian mata air panas di Fuefuki. FOTO/Irmawar

Sehingga sangat pantas jika Kota Fuefuki menjadi salah satu kampung impian nomor satu di Jepang. Pada muism mekarnya bunga di awal hingga pertengahan April, kita bisa menemukan separuh kota berwarna merah muda, bak permadani yang terbentang luas menutupi separuh kota.Warna merah muda dari bunga sakura dan peach atau momo. Saya hanya menikmati pemandangan merah muda ini melalui gambar, karena saya berada di sini pertengahan September. (Koran Tempo Makassar, edisi  12 September 2014)