Uang Panai’ Sampai Rental Tali Bra Emas

Tradisi panai’ seolah mengawinkan budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik.

Membincangkan tradisi Uang Panai' di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi Uang Panai’ di katakerja, 5 April 2016. Foto/Irmawar

”Apakah pernah kau berfikir untuk menikah?” begitu pesan singkat yang diterima M Aan Mansyur dari ibunya, beberapa hari lalu. Cerita penulis dan penyair Makassar ini membuka perbincangan ‘Melihat Perasaan dengan Pikiran’ yakni tentang ‘uang panai’ digelar Komunitas Literasi Makassar, Selasa malam, di Katakerja.

Uang panai’ merupakan besaran uang yang diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita untuk keperluan pernikahan. Uang ini tidak terhitung mahar pernikahan, melainkan uang adat, namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati kedua belah pihak atau keluarga.

'posisi moral seorang penulis'

‘posisi moral seorang penulis’

Kembali ke pesan singkat sang ibu. Pertanyaan serupa mungkin Anda pernah dapatkan, apalagi jika usia Anda sudah dianggap cukup, studi sudah rampung, dan Anda sudah cukup mandiri alias punya penghasilan sendiri. Tapi itu saja belum cukup, sebab menikahi perempuan Bugis-Makassar berarti Anda harus siap dengan uang panai’. Bahkan, besarannya semakin hari semakin fantastis yang mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tak hanya memberatkan, tapi tradisi panai’ ini seolah menghilangkan nilai kesakralan sebuah pernikahan, mengubahnya sebagai ajang transaksional.

Membincangkan Tradisi Panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan Tradisi Panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Menurut Aan, tradisi panai’ membuat lelaki yang menjadi suami seperti punya properti bernama istri. Dimana semakin besar panai’ yang dibawa, seolah memberi kuasa makin besar kepada suami untuk bisa melakukan apapun kepada pasangannya. Di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, kata Aan ada banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berkaitan dengan uang panai’.

Celakanya, jika ada yang melawan tradisi‘panai’ ini, cenderung dikucilkan dalam keluarga. Aan melanjutkan kisah, bagaimana ibunya ditentang oleh keluarga besarnya saat hendak menikahkan anak bungsu perempuannya di tahun 2007 lalu. “Kenapa kau jual murah anakmu?,” Aan menirukan perkataan keluarga besarnya kepada ibunya yang hanya meminta Rp 2,5 juta dari lelaki yang hendak menikahi putrinya. “Uang itu hanya untuk biaya sekali makan siang untuk keluarga dan undangan,” ungkap Aan.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/Irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/Irmawar

Jika ibu Aan berhasil melawan, tapi tidak banyak orang yang tak sepakat bisa melawan. Mereka kadang akhirnya terjebak dalam pusaran tradisi yang makin tak masuk akal. Pernikahan yang transaksional juga menjadi ajang pamer materi, ikatan kekeluarga pudar karena semua harus berbayar, kerjasama dan kebersamaan makin terkikis. Lihatlah pernikahan hari ini, kata Aan, hanya untuk demi ‘dipamerkan’ beberapa jam, mempelai harus membayar belasan hingga puluhan juta hanya untuk make up semata.

Jadilah ajang pernikahan menjadi ruang perjodohan antara budaya modern yang sangat kapitalis dengan budaya Bugis yang sangat materialistik. Masyarakat dengan latah meniru tanpa menyaring.

Membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. Foto/irmawar

Membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. Foto/irmawar

Lukman, mahasiswa Univesritas Islam Negeri Alauddin Makassar ini mengungkapkan, di kampungnya di Sidrap bahkan sudah ada tempat rental perhiasan yang akan laris manis jika ada pesta pernikahan. “Pesta pernikahan adalah ajang memamerkan perhiasan emas yang dipakai,” kata Lukman.

Masih di Sidrap, kata Eko Rusdianto, bahwa di daerah itu konon yang dipamerkan tak hanya perhiasan, tapi juga tali bra berlapis emas. “Kata teman saya bahkan ada tempat rental khusus tali bra berlapis emas,” ungkapnya. Begitulah pernikahan semakin rumit dan memberatkan.

Tapi, kata Eko, satu-satunya lelaki dalam forum yang telah menikah, besaran uang panai’ itu bukan harga mati, tapi sesuatu yang bisa dirundingkan. Pernyataan Eko ini berdasarkan pengalamannya melamar istrinya dahulu. Menurutnya, uang panai’ itu adalah cara laki-laki untuk memperlihatkan bahwa secara materi dia bisa membiaya anak perempuan orang lain.

Hari ini, tradisi panai’ kebanyakan sudah bergeser, kata Aan, pernikahan dan besaran panai’ menjadi jalan untuk menaikkan status sosial. Jadilah nilainya sangat besar dan memberatkan sehingga menjadi salah satu indikasi penyebab lelaki takut meminang perempuan Bugis-Makassar.

membincangkan tradisi uang panai' di katakerja. foto/irmawar

membincangkan tradisi uang panai’ di katakerja. foto/irmawar

Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan pada akhirnya hubungan relasi  hari ini bergeser, karena terjadinya tumbukan-tumbukan kebudayaan dan identitas, dimana pernikahan kini menjadikan budaya kolektifitas harus ditanggung secara individulistik sehingga menjadi sangat mahal.  “Tradisi perkauman dan kebersamaan dalam pernikahan yang kolektif kini harus ditanggung sendiri.”

Jika berbicara budaya kolektif, kata Alwy, maka kita akan diperhadapkan pada nilai ‘malu’ yang sangat mahal. Dimana tak menjadi pertaruhan materi, tapi juga bisa dibayar dengan kematian. Alwy curiga, tradisi perkawinan hari ini  dimanfaatkan orang yang mencari kebangsawanan baru atau perkauman baru.

Semua dinilai dengan materi, mengakibatkan mekanisme tradisi yang selama ini punya fungsi sosial yang bagus kini pun bergeser. Dulu, kata Alwy, pernikahan menjadi ajang pembagian untuk menikmati protein secara merata.

kopi, pisang gorengnya mana?

kopi, pisang gorengnya mana?

Meski peserta yang ikut berbincang di Katakerja hanya belasan, obrolan yang direncanakan berlangsung dua jam menjadi lima jam. Semua peserta secara aktif berbagi informasi dan pengalaman seputar uang panai’ yang kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk disuarakan lewat tulisan. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  07 April 2016)

http://koran.tempo.co/konten/2016/04/07/396876/Membincangkan-Tradisi-Uang-Panai

 

 

Advertisements

Membaca Literasi Kopi Nusantara

Teguk selagi hangat agar sensor perasa bekerja maksimal.

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca, 22-24 Oktober 2015, di Karawang, Jawa Barat. Foto/Irmawar

Aroma kopi Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua mampu memikat orang-orang untuk singgah di salah satu stand di Festival Indonesia Membaca, yang berlangsung 22-24 Oktober di Karawang, Jawa Barat. Penulis yang juga berprofesi sebagai barista, Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi nusantara.

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Gayo dari Aceh, Toraja, hingga Baliem di Papua, Literasi Kopi di Festival Indonesia Membaca 2015. Foto/Irmawar

Faiz menyajikan kopi-kopi kualitas premium yang diproses secara natural. Tak sekedar meracik, tapi sang barista juga menjelaskan bagaimana rasa sebuah kopi sangat dipengaruhi tempat dimana kopi. Jadi meski semua jenisnya arabika, tapi rasa arabika yang ditanam di Gayo, Toraja, dan Baliem, pasti memiliki cita rasa yang berbeda.

Sambil menunggu airnya mendidih, Faiz menggili kopi dengan mesin grinder. Untuk 10-14 gram biji kopi, dibutuhkan 150 milliliter air. Kopi yang telah digiling dimasukkan ke dalam rockpresso—alat untuk memeras sari kopi—lalu siram dengan air yang telah dididihkan. Sebelum menuangkan air panas, air diamkan sejenak. Untuk suhu air, sang barista tampak begitu ketat, dia bahkan mengukur suhu air dengan termometer, setelah menunjukkan 95 derajat celcius, barulah dituang ke wadah rockpresso. Lagi-lagi didiamkan sejenak, lalu ditekan agar sari kopinya keluar.

Aroma sari kopi mulai terasa. Sebelum meminum, Faiz menganjurkan agar menghirup dan menikmati aromanya terlebih dahulu. “Kopi bisa menjadi aroma terapi bagi saraf kita,” ungkapnya. Selanjutnya bisa diminum. Untuk mendeteksi kekhasan rasa kopi, kumur sari kopi sebelum ditelan.“Kopi sebaiknya diteguk selagi hangat agar sensor perasa kita bekerja maksimal.”

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Faiz Ansoul mencoba memperkenalkan literasi kopi. Foto/irmawar nusantara.

Untuk menikmati citarasa kopi, kata Faiz, sebaiknya jangan langsung diberi gula. Lalu bagi Anda yang sudah terbiasa dengan sajian kopi susu atau latte, sebaiknya gunakan susu jenis UHT.  Jangan kental manis, karena memiliki kadar asam, kurang cocok dengan arabika yang juga memiliki kadar asam yang tinggi.

***

Sejak April lalu, Faiz yang juga pustakawan dan perintis Radio Buku, membuka Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”—nama yang diambil dari artefak pers Indonesia di kawasan Yogyakarta yang tahun ini genap berusia satu abad.

Sebelum membuka kafe, Faiz sendiri sudah aktif bersama teman-teman di Komunitas Kopi Lover—sebuah komunitas pencinta kopi—para pencinta kopi ini membangun jaringan dalam bentuk komunitas yang sifatnya tidak mengikat. Bersama-sama para pecinta kopi di komunitas ini, Faiz juga aktif memberikan edukasi kepada petani, terutama proses pasca panen. “Bagaimana kami mengajak mereka melakukan proses yang dianggap tepat yang baik.

Living Library. Foto/Irmawar

Living Library. Foto/Irmawar

Proses pengolahan kopi yang dikenal ada dua yakni hani dan natural proses. Hani adalah proses petik masak, cuci, pengupasan, dan penjemuran lagi yang dilakukan sekitar seminggu. Proses hani ini mampu mengurangi kadar air biji kopi hingga 40 persen. Sementara untuk kopi yang melalui natural proses, kadar airnya lebih rendah. Untuk natural proses, kata Faiz butuh waktu yang lebih lama yakni 2-3 tahun penyimpanan, lalu dijemur lagi. “Semakin kurang kadar airnya, maka kadar kafein kopi juga semakin rendah,” ungkap Faiz. Tak sekedar pengolahan, komunitas ini juga menganjurkan ke petani untuk memanen buah kopi kualitas cerry atau petik masak.

Selain literasi kopi yang disuguhkan oleh Kafe Kopi “Bintang Mataram 1915”, di stand ini, Anda juga bisa membaca buku-buku terbitan Komunitas Literasi Makassar, Inninawa dan Radio Buku, ada mading Pelangi, juga bisa menonton video dokumenter karya teman-teman di Kampung Halaman. Mengenal citarasa nusantara melalui kopi.  (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

Kopi dan Kekuasaan

Keberadaan kopi di Nusantara sangat erat kaitannya dengan kekuasaan, terutama di kawasan Timur Indonesia. “Kopi dan kekuasaan sangat terlihat di wilayah Timur dibanding Jawa,” kata Faiz Ansoul, penulis dan pustakawan Radio Buku, saat ditemui di Festival Indonesia Membaca di Karawang, Jawa Barat, Jumat lalu.

Menurut Faiz yang juga berprofesi sebagai barista ini, di Jawa, seperti Yokyakarta, tanah-tanah dikuasai oleh keraton, sedangkan di luar Jawa, lahan kebanyakan dikuasai tuan tanah. Lahan kopi di Jawa juga tak sebanyak di Sumatera. “Rasa kopi sangat dipengaruhi tempatnya dimana ditanam,” ungkap Faiz. Karena setiap daerah punya citarasa kopi yang khas.

Di Sulawesi juga terkenal dengan kopi Arabika asal Toraja. Menurut peneliti genetik kopi dari Universitas Hasanuddin, Andi Ilham Latunra, di Sulawesi Selatan tepatnya di Enrekang terdapat areal purba yang dikenal sebagai tanah Lixisol Podzolik. Keberadaan perkebunan rakyat di Enrekang dan Toraja mulai dikenal sebagai penghasil kopi Kalo sejak 1750.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

perpustakaan, membaca, dan kopi.

Pada abad XIV, keberadaan perkebunan kopi Arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, poselen, tembikar dan kain, untuk dituker dengan kopi. Tahun 1887-1888, pasar kopi di Toraja didominasi Kerajaan Luwu. Mengakibatkan meletusnya Perang Kopi 1, dimana terjadi persaingan merebut sumber kopi oleh pedagang, hal ini menimbulkan banyak kerusakan di Toraja.

Pasukan kerajaan Bone dibawa pimpinan La Maddukelleng Petta Ponggawa memasuki Toraja pada 1898, mengakibatkan Perang Kopi II, karena masyarakat Toraja bersama Puang Tallu Lembangna melakukan perlawanan.

Tahun 1890, La Tanro Puang Mallajange ri Buttu Mario, Raja Agung Enrekang XVI menghentikan perang kopi dan mengatur tata niaga baru perdagangan kopi di Toraja dan Enrekang. Kerajaan Enrekang dan Kerajaan Tallu Lembangna takluk pada pasukan Belanda pada 1906. Penjajah kemudian membangun onderneming  di Bolokan dan Pedamaran. Selanjutnya, pada 1912, tata niaga kopi Toraja dilaksanakan oleh saudagar Cina, di antaranya Baba Pamarrasadan, Kwie Tjai Hind an Ing Goe An.

“Masih terdapat pohon induk Tipika yang berusia 250 tahun di Toraja dan Enrekang,” ungkap Ilham yang dihubungi terpisah. Kopi tipika alias Arabika Tipika dikenal juga sebagai Kopi Kalosi.(Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  26 Oktober 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/10/26/385870/Menebar-Literasi-Kopi-Nusantara

 

Pemikiran Semesta Karaeng Pattingalloang

Makassar International Writers Festival 2015

Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat.

Seorang ibu mencoba memperkenalkan sosok cendikiawan Makassar abad ke-17, Kareang Pattingalloang kepada anaknya. Bersama anaknya, sang ibu mendatangani sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Pattingalloang. Cuaca yang cukup cerah menemani perjalanan mereka ke makam Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Tak berhenti disitu, sang ibu juga mengajak putranya ke museum Karaeng Pattingalloang yang terletak di Benteng Somba Opu.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Adegan ini membawa saya ke masa 20 tahun lalu, dimana saya hanya mengenal Karaeng Pattingalloang sebagai nama pasukan yang  tersemat di seragam pramuka saya. Seperti anak itu, saya pun tak cukup kenal sosok Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo (1639-1654) yang menguasai banyak bahasa asing.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Pattingalloang adalah putra Raja Tallo IV yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang. Sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, menyukai ilmu sains dan belajar secara otodidak, serta update akan temuan-temuan terbaru dunia.  Seorang misionaris Katholik, Alexander Rhodes, pada 1646 menulis “Karaeng Pattingalloang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat…”.

Siapa Karaeng Pattingalloang akan diceritakan secara singkat dalam film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Film berdurasi sekitar 15 menit ini akan ditayangkan saat pembukaan Makassar International Writers Festival 2015, malam ini di Fort Rotterdam. Film garapan Andi Burhamzah ini diproduksi oleh Timur Pictures bekerjasama Rumata’ Art Space atas dukungan Bosowa Foundation.

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

Sepotong adegan film pendek Butta Pabicara : Tribute to Karaeng Pattingalloang. Foto/Pepeng Sofyan

“Film adalah media yang sangat efektif dan komunikatif untuk menggambarkan tokoh dalam waktu singkat,” kata Riri Riza, produser film pendek Patingalloang, yang dihubungi Senin lalu. Memproduksi video pendek dari subjek utama yang menjadi tema festival sudah menjadi ciki MIWF setiap tahun.

Setiap tahun, MIWF akan menghadirkan sosok-sosok tokoh inspirasi asal Sulawesi Selatan. Tahun lalu ada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang lurus dan tegas. Tahun sebelumnya ada AM Dg Myala alias A.M. Thahir, salah satu penyair angkatan Pujangga Baru (1933-1942) dari Makassar. Tahun 2012, almarhum Profesor Mattulada dinobatkan sebagai tokoh sastra Sulawesi. Penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada almarhum Muhammad Salim, penerjemah naskah klasik I La Galigo pada MIWF pertama tahun 2011 lalu.

Pendiri dan Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mengatakan, tahun ini kami memilih Kareang Pattingalloang  sebagai tokoh dengan tema pengetahuan dan semesta. “Tokoh yang ada dan tak banyak tahu,” ungkapnya dalam jumpa pers di Kafe Mama Bau Mangga, kemarin.

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Makam Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan Makam Arung Palakka, Kabupaten Gowa. Foto/Irmawar

Siapa dan bagaimana kiprah sosok Karaeng Pattingalloang akan dikupas lebih mendalam dalam seminar “Karaeng Pattingalloang : Knowledge & Universe”, Kamis besok di Auditorium Aksa Mahmud. Dengan pembicara Nirwan Ahmad Arsuka, JJ Rizal, dan budayawan Sulawesi Selatan, Alwy Rachman.

Kurator MIWF, Aslan Abidin yang ditemui secara terpisah mengatakan momen ini bisa menjadi langkah awal untuk menelusuri kapasitas intelektual Pattingalloang. “Dari catatan yang akan, Pattingalloang disebut tertarik ilmu pengetahuan, lalu kenapa karakter dan semangat intelektualnya tidak menurun ke masyarakat Sulawesi Selatan.” (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  03 Juni 2015)

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/03/374260/Pemikiran-Semesta-Karaeng-Pattingalloang

Melahirkan Perahu Pustaka

Makassar International Writers Festival 2015

Menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau di pesisir Sulawesi dan Kalimantan.

Semua berawal dari obrolan dunia maya antara Nirwan Ahmad Arsuka, Muhammad Ridwan Alimuddin, Kamaruddin Azis, dan Anwar Jimpe Rachman. Tepatnya sekitar dua bulan lalu, Nirwan mengusulkan tentang Perahu Pustaka. “Urusan pembuatan perahu, pelayaran hingga pengelolaan saya yang tangani. Kak Nirwan bantu mencarikan pendanaan pembuatan perahu,” kata Ridwan, Pustakawan Perahu Pustaka kepada Tempo, Senin lalu.

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka Pattingalloang, Nirwan Ahmad Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Penulis dan pengamat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Nirwan Ahmad Arsuka mengatakan usul itu muncul karena melihat masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Saya sering ketakutan ketika bertemu anak-anak, mereka tidak bisa bercerita dan mimpi. Padahal kalau mereka membaca, mereka bisa menjelaskan dunia mereka dan mungkin punya mimpi yang lain,” ungkapnya dalam sesi Passion in Action, Makassar International Writers Festival, yang digelar di Gedung Iptek Universitas Hasanuddin, kemarin.

Sekitar pukul 07.00 Wita, Rabu kemarin, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh di dermaga depan Fort Rotterdam, Makassar. Ini adalah pelayaran perdana dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang ditempuh selama 14 jam perjalanan mengarungi lautan di selat Makassar. Menurut Ridwan yang juga peneliti maritime dan kelautan Mandar, perkiraan kecepatan kapal mencapai 7-8 knot atau 8 mil per jam.

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual membuat Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Perahu Pustaka adalah jenis perahu lambung lebar yang dikenal sebagai baqgo oleh orang Mandar dan pattorani oleh orang Makassar. kata Ridwan, jenis perahu ini sudah jarang digunakan karena dari segi hidrodinamis, perahu ini tidak laju. Tapi dahulu disukai karena bisa memuat banyak barang, berbeda dengan jenis phinisi.

Dahulu, nelayan mencari teripang ke Australia dengan kapal baqgo, orang Makassar sendiri menggunakannya untuk mencari ikan terbang. Kelebihan lainnya, kata Ridwan karena perahu ini relatif stabil dan bisa masuk ke sungai. Menurutnya, sampai tahun 80-an, jenis kapal ini masih banyak di Mandar. “Sekarang sudah jarang, tapi saya pernah melihat di Mandar, Bira dan Galesong.”

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok.Ridwan Alimuddin

Dalam budaya adat Mandar, perahu itu serupa anak. Karenanya, kata Ridwan, saat proses awal pembuatan perahu dipakai simbol-simbol kesuburan yang identik dengan hubungan suami-istri. “Kayu lunas disentuhkan ke putting susu tukang sebagai simbol disusui. Lalu saat penyambungan lunas, ada pemeran laki-laki dan juga perempuan. Saat memasukkan lunas, terlebih dahulu dilumuri dengan kelapa dan air yang sebelumnya direndam emas, ini simbol sperma,” jelas Ridwan.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

***

Adapun penggunaan nama Pattingalloang, kata Ridwan, sebagai pengingat adanya hubungan antara Mandar dan Makassar dalam sejarah kemaritiman. Dan kebetulan ada momen MIWF yang juga mengangkat tokoh inspirasi Karaeng Pattingalloang. “Dalam masa pembuatan perahu, kemudian ada ide memperkenalkan Perahu Pustaka di ajang MIWF 2015 ini,” ungkap Ridwan.

Perahu Pustaka Pattingalloang rencananya akan digunakan untuk menyebarkan virus literasi ke pulau-pulau yang berada di pesisir Sulawesi dan Kalimantan. Kapal ini diperkirakan mampu memuat ribu-10 ribu buku. “Kebanyakan buku anak-anak, karena targetnya memang anak-anak pesisir,” ungkap Ridwan yang memilih resign sebagai jurnalis untuk lebih fokus mengurus Perahu Pustaka ini.

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Ritual pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang. Foto/Dok. Ridwan Alimuddin

Selain perpustakaan, kata Ridwan, Perahu Pustaka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar teknik-teknik pelayaran tradisional. Salah satu peserta diskusi di Unhas, kemarin, siap memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian studi di Perahu Pustaka. (*) (Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  04 Juni 2015)

 

http://koran.tempo.co/konten/2015/06/04/374352/Melahirkan-Perahu-Pustaka

 

Menyapa Lewat Esai Tanpa Pagar

Dia punya keindahannya sendiri, dengan unsur sentuhan personal yang kuat. 

Pada suatu malam yang terbungkus gelap dan temaram lampu-lampu Kota Makassar, Nurhady Sirimorok bertanya kepada saya, “Menurut Bapak, apa aliran politik pencipta lagu anak-anak Layang-layangku?” Saya betul-betul terhenyak! Kalau dia bertanya tentang lagu kebangsaan Cina, Zhi Lai, ciptaan Nie Her, barangkali saya akan lebih siap menjawab, kata Amarzan Loebis, editor senior Tempo, dalam prolognya di buku Esai Tanpa Pagar100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013.

Komunitas literasi disela peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Komunitas literasi disela peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Jawaban Amarzan ini kemudian diolah Dandy—sapaan akrab Nurhady—menjadi tulisan Literasi berjudul “Membayangkan Masa yang Menciptakan Layang-layang” yang dimuat di Koran Tempo Makassar pada 24 Juli 2013. Dalam tulisannya, Dandy mengungkapkan, bagaimana lagu Layang-layang dan permainan layang-layang bisa menjadi ilustrasi tentang latar masa yang mendasari penciptaannya dan bagaimana ia kian dilupakan seiring dengan berubahnya masyarakat.

Ingatan kolektif tentang pembuatannya jadi susut. Nyaris bersamaan, serangan lain datang dalam bentuk permainan bermesin dan kelak berkontrol jarak jauh. Pembangunan kota pun membuat tanah lapang untuk menerbangkannya menyempit. Aktivitas rekreasi anak-anak perlahan beralih menjadi nirgerak, antisosial, dan konsumtif, dimanjakan beragam fitur di telepon seluler, tablet, televisi, dan berbagai jenis video game. Ruang gerak mereka semakin terkurung teknologi. Bersama permainan rakyat lainnya, layang-layang takluk, lalu terkurung di museum dan festival-festival—menjadi tontonan, entah sampai kapan.

Sangat sedikit keterangan mengenai layang-layang di dunia maya. “NN” adalah pencipta lagunya dan mulai dikenal pada 1960-an. Itu saja. Jejak paling awal justru saya peroleh dari penuturan Amarzan Loebis, yang mengaku mendengarnya pertama kali ketika ia berusia belasan tahun pada pertengahan 1950-an—beberapa orang lain menyebutkan awal hingga akhir 1960-an sebagai masa pertama kali mereka mendengarnya. Jadi, anggaplah lagu ini dibuat pada paruh kedua 1950-an.

Begitulah salah satu kisah proses tulisan literasi bisa terbentuk. Amarzan mengatakan, dalam prolognya,

“literasi” pada akhirnya menjadi semacam “taman olah pikir” para intelektual Makassar, para jauhari dari berbagai disiplin, dengan cara yang rendah hati dan menginspirasi. Kemikroan sikap pandang mereka bukanlah representasi kesempitan berpikir, melainkan semacam ijtihad merayakan kedalaman dan ketajaman.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Seperti apa kedalaman dan ketajaman masing-masing penulis, itu bisa dilihat dalam buku Esai Tanpa Pagar ini. Dalam buku ini terdapat 100 tulisan literasi, yang dipilih dari 261 tulisan literasi yang terbit di Koran Tempo Makassar selama 2013. Buku ini diluncurkan pertama kali Sabtu sore lalu di Fort Rotterdam Makassar.

Buku seratus literasi ini menghimpun 20 kara penulis, yakni Ahyar Anwar (almarhum), Alwy Rachman, Andi Sri Wahyuni Handayani, Anwar Jimpe Rachman, Aslan Abidin, Dul Abdul Rahman, Erni Aladjai, Fadhli Amir, Fitrawan Umar, Hendragunawan S.Thayf, Idham Malik, M. Aan Mansyur, Mohd. Sabri A.R., Muhary Wahyu Nurba, Muin Kubais M. Zeen, Mulyani Hasan, Nurhady Sirimorok, Shinta Febriany, Wawan Kurniawan, dan Willy Kumurur.

Kata Aslan, salah satu penulis, tulisan dalam literasi kebanyakan mengenai hal-hal serius yang kita lewatkan dan dianggap sepele. Misalnya, tentang membuang sampah di sembarang tempat dan tentang geng motor yang merisaukan warga Makassar. Dari pengalaman dan pengamatan yang disaksikan dalam masyarakat itu, kemudian dituliskan dengan menambahkan referensi, baik dari bacaan, pengalaman, maupun film.

Menurut dia, literasi punya niat dan punya manfaat secara sosial, karena pada umumnya menyentuh kepentingan banyak orang. “Kolom ini semacam ruang publik, kita bisa membicarakan masalah-masalah masyarakat,” tuturnya.

Selain untuk berbagi kepada masyarakat, kata Aslan, literasi dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan penguasa. “Penguasa kita tidak berfungsi dengan baik, anggota Dewan kita, pemerintah kita, tidak berfungsi dengan baik,” ucap Aslan. Selain itu, literasi diharapkan menjadikan pembacanya tergerak untuk membaca kenyataan sosial dan membaca buku.

Peluncuran buku "Esai Tanpa Pagar" 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Peluncuran buku “Esai Tanpa Pagar” 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, dikawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sabtu (7/6). FOTO : Dokumentasi Komunitas Literasi

Luna Vidya, salah satu penanggap buku Esai Tanpa Pagar, mengatakan literasi adalah media menuangkan kecerdasan subyektif. “Penulis dalam buku ini memberi pemahaman yang baik kepada pembaca,” tuturnya.

Lain lagi pendapat penulis dan seniman Moch Hasyimi Ibrahim. Menurut dia, literasi dalam buku Esai Tanpa Pagar ini sangat jeli mengangkat tema sosial. “Erni Aladjai, misalnya, mengangkat kebiasaan membuang nasi (tak menghabiskan nasi),” ucap Ami—sapaan akrabnya.

Rubrik literasi ini selalu dinikmati Ami setiap sore, menemaninya menunggu waktu mengurai kemacetan Makassar. Ditulis oleh penulis yang terpikat pada sesuatu gejala alam, lalu dimaksudkan untuk membagi, secara subyektif.

Literasi semacam ruang untuk menyapa, menyampaikan pandangan ke publik. “Dia punya keindahannya sendiri, unsur sentuhan personalnya kuat, serta memiliki rasa Makassar yang khas,” ujar Ami. Sesuai dengan namanya, tulisan literasi harus disertai rujukan, “Kami bisa menemukan bacaan-bacaan dunia yang menjadi literatur.” Umumnya tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki rujukan peristiwa sehingga terasa sangat segar. “Ini harus kita sambut dengan baik, saya kira rubrik ini jangan sampai mati. Enak dibaca dan perlu.”

Dewan Penasihat Komunitas Literasi Makassar, M. Iqbal Parewangi, yang datang agar tak kehabisan buku, mengungkapkan penilaiannya secara subyektif, bahwa literasi adalah godaan terhadap Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. (By Irmawati,  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  10 Juni 2014)

Politik Menulis dan Menemukan Diri Sendiri

Untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar, dan berani.

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Panggung Literasi hasil kerja sama mahasiswa Himpunan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan Komunitas Literasi Makassar, di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto/Dani Kristianto

Dalam kisah mitologi Yunani, terciptalah perempuan pertama di dunia. Athena memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memberinya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Poseidon memberinya kalung mutiara, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Hera memberinya rasa penasaran, Hermes memberinya kepandaian berbicara dan menamainya Pandora—mendapat banyak hadiah.

Semua yang dimiliki Pandora memikat Epimetheus lalu menikahinya. Di hari pernikahannya, para dewa memberi hadiah, sebuah kotak tapi Pandora dilarang untuk membukanya. Karena penasaran, Pandora membukanya sekaligus melepas teror ke dunia. Rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, dan berbagai malapetaka. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti manusia. Pandora menyesali, berutung masih ada harapan yang tersisa.

Demikianlah kisah si ‘Yunani Cantik’ seperti yang dikisahkah Yudhistira Sukatanya dalam tulisannya berjudul “Ekstasi Pandora”, Literasi Koran Tempo Makassar, terbit 20 Maret 2014 lalu. Bagaimana proses penulisan Literasi ini, menjadi salah satu pertanyaan titipan peserta dalam ajang Panggung Literasi VI, yang di gedung Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Samata, Jumat lalu.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Acara yang digelar mahasiswa Himpunan Jurusan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin bekerjasama dengan Komunitas Literasi Makassar ini mengangkat tema ‘Tradisi Menulis dan Kebebasan Berfikir’. “Menulislah agar tidak kehilangan gagasan,” kata Alwy Rachman, Dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, salah satu penulis Literasi yang menjadi pembicara dihadapan sekitar seratus peserta Panggung Literasi.

Sebab menulis itu menyangkut kedaulatan dan kedaulatan itu harus dilacak pada kehendak seseorang. “Menulis itu berpolitik,” ungkapnya. Penulis juga dituntut untuk berpolitik, artinya kalau mau berpolitik harus menyiapkan diri selalu hidup lalu mati. Menurut Alwy, lahirnya pembaca akan membunuh si penulis, lalu ia akan hidup kembali setelah melahirkan karyanya.

Jika menulis adalah bagian dari proses hidup dan matinya si penulis. Ada betulnya kata Muh Quraisy Mathar, Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin  yang juga menjadi pembicara bahwa

untuk menulis, seseorang perlu ikhlas, jujur, sabar dan berani. Muhary Wahyu Nurba menambahkan bahwa seorang penulis juga harus bisa mempertanggungjawabkan karyanya.

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Panggung Literasi di gedung Perpustakaan UIN Alauddin Samata, 28 Maret 2014. Foto : Dani Kristianto

Alwy mengungkapkan hal serupa bahwa hanya orang yang jujur yang bisa menulis. Menulis adalah cara untuk mengecek kebebasan, sebab kalimat-kalimat terlalu sempit untuk menampung pikiran manusia. Dosen Linguistik ini juga mengingatkan agar jangan sekali-kali menulis saat Anda sedang marah.  Sebab suasana diri bisa terbawa dalam tulisan, artinya menulis bisa menjadi media untuk kita merefleksi diri sendiri. Dimana kita bisa menemukan diri sendiri dalam tulisan kita.

Menurut Yudhistira yang juga anggota Dewan Kesenian Makassar, kebebasan berfikir hanya ada dalam diri sendiri. Saat tulisan kita diserahkan ke pembaca, Anda harus siap memenjarakan diri sendiri.

Proses penulis sendiri harus dimulai dari membaca. Membaca, kata Muhary mampu menghadirkan kebabasan berimajinasi. Menurut Alwy, kemauan membaca adalah cara untuk menghargai diri sendiri, sebab membaca juga bisa digunakan untuk melacak diri sendiri.

Menulis itu membagi kebaikan, kata Muhary, caranya dengan belajar dulu membangun hal-hal kritis di sekitar kita. Menurut Alwy, penulis dituntut menghadirkan  kedaulatan agar selalu menghadirkan kebaikan. “Ketika kita ingin menyampaikan kebaikan, memang terlalu banyak penggoda,” kata Yudhistira. Seperti Pandora yang tak bermaksud menyebarkan keburukan. Tapi beruntung masih ada harapan. Mari kita menuliskan harapan-harapan kita untuk menemukan diri kita. (By Irmawati  Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi  01 April 2014)

 

Penulis-Penulis tanpa Pagar

Menghasilkan tulisan yang bagus harus dimulai dengan membaca.

Dari kiri ke kanan--Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Dari kiri ke kanan–Muhary Wahyu Nurba, Wawan Kurniawan, Shinta Febriany, Fadhli Amir, Aslan Abidin, Alwy Rachman, dan Imhe.

Setiap kali hendak menulis, Yusnawati selalu kesulitan membuat ending tulisan. Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Makassar ini bakhan sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai menulis. Hal serupa dialami Irfan yang seringkali pikirannya terasa buntu.

Berbeda dengan Fahrul Syarif, mahasiswa Fakultas Psikologi UNM ini justru termasuk mahasiswa yang aktif menulis, sayang karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buletin justru dicekal.

Menurut Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Aslan Abidin, menulis memang harus dibarengi dengan nyali. Penulis tetap kolom Literasi Rabu di Koran Tempo Makassar ini mengungkapkan, dirinya juga terkadang merasa ketakutan setelah tulisannya dipublis. Salah satunya saat ia menulis tema ‘Geng Motor’ di halaman Literasi.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Peserta Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013.

Lalu bagaimana menuliskan pemikiran kita, kata Aslan, kadang imajinasi di kepala itu tidak terbentuk, nah, untuk menuliskannya perlu perangkat yang namanya bahasa dan memiliki kosa kata yang cukup untuk merangkainya menjadi tulisan. Agar memiliki variasi kata-kata diperlukan membaca. “Jadi resep menulis adalah membaca,” ungkapnya dihadapan peserta Panggung Literasi yang digelar di Auditorium Amanagappa, Kampus UNM Gunungsari, kemarin.

Hal serupa diungkapkan Shinta Febriany, penyair dan sutradara teater yang juga penulis tetap Literasi ini mengatakan proses kreatif dari literasinya itu muncul ketika mendapat stimulan seperti bacaan. Hal itulah yang  menimbulkan rangsangan untuk menulis.

Hendragunawan S. Thayf, penyair  yang  juga anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea ini berpendapat konsep penulisan Literasi dituntut untuk menggalakkan niat membaca dan menulis. “Ada muatan literer dan sastrawi. Ketika tangan menulis, otak menari,” ucap dia. Lalu penggiat di Kampung Sastra Sungai Aksara, Muhary Wahyu Nurba mengatakan membuka tulisan sangat ditentukan oleh bacaan kita sebelumnya.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Dosen Ilmu Budaya dari Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman mengatakan membaca sama dengan melawan diri sendiri. Begitu pula menulis sama dengan melawan diri sendiri. Proses menulis sama dengan proses dialog dengan diri sendiri. Kebiasaan membaca, kata dia, selalu bisa membuat kita melihat diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain. Literasi membangun karakter, Belajar literasi sama dengan menjalani pendidikan moral. “Bangunlah panggung-panggung di luar kelas (kuliah),” ujarnya.

Di Eropa, kata Alwy, anak-anaknya,  sejak sekolah dasar hingga menengah, diajarkan menulis dengan cara menuliskan pengalaman sehari-harinya di rumah. Sehingga ketika memasuki perguruan tinggi, pendidikan menulisnya sudah selesai. Hasilnya mereka mampu mencetak sarjana-sarjana yang mahir menulis dalam hal apa saja. Contoh fisikawan, sejarawan, antropolog, cara menulis mereka sangat sastrawi.

Tapi itu berbeda yang terjadi di Indonesia, kultur Literasi tidak menjadi ideologi dalam sistem pendidikan di negeri ini . “Anak sekolah diajarkan menghafal, bukan berpikir,” Alwy menambahkan. Menurutnya, pada saat menulislah, orang dibiasakan menulis.

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Pameran karya-karya Literasi di acara Panggung Literasi di Auditorium Amanagappa, Universitas Negeri Makassar, 4 Oktober 2013. Foto/Irmawar

Masih merujuk Eropa, masyarakatnya dibiasakan hidup tanpa pagar, sehingga tercipta ruang-ruang komunikasi yang lapang antar tetangga. Panggung Literasi ini juga bisa dibilang merupakan cara penulis-penulis Literasi hidup ‘tanpa pagar’ yakni berbagi dan menularkan virus-virus positif. Selain para penulis tetap, dua penulis tamu juga turut berbagi yakni Wawan Kurniawan dan Fadhli Amir, keduanya adalah mahasiswa kampus orange ini.  (By Rezki Alvionitasari & Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 Oktober 2013)

Jangan Membaca Ahyar dengan Linier

Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra.

Kematian tak pernah membuat kita kehilangan orang yang kita cintai. Kehidupanlah yang membuat kita tak saja kehilangan orang yang kita cintai, tapi juga kehilangan diri kita sendiri. 

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Sahabat-sahabat almarhum, Senin malam, 3 September mengirimkan doa dalam acara ‘Mengenang Ahyar Anwar’ yang digelar, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. Foto/Irmawar

Kalimat itu ditulis Ahyar Anwar dalam bukunya, Aforisma Cinta (2013). Senin malam lalu, apa yang ditulisnya itu terbukti: meski ia telah berpulang pada 27 Agustus lalu, orang-orang tetap mengingatnya. Mereka berkumpul untuk mengenang dan mengirim doa kepada lelaki kelahiran 15 Februari 1970 ini dalam acara “Mengenang Ahyar Anwar” di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar. Ada Seniman, budayawan, akademikus, mahasiswa, dan jurnalis .

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

Risma Niswaty, istri alm Ahyar Anwar dan anak-anaknya. Foto/Irmawar

M. Aan Mansyur, misalnya, bercerita tentang sosok almarhum dengan membacakan tulisannya berjudul Ahyar Anwar dan Pesimisme yang dimuat di Koran Tempo Makassar, 29 Agustus lalu. Menurut penyair ini, Ahyar adalah pembaca yang tekun dan penulis yang produktif.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai dosen, Ahyar selalu punya waktu untuk menulis. Setiap minggu, dia membagi pikirannya di media massa. Dia juga telah menerbitkan sejumlah buku. Tulisan-tulisan terakhirnya banyak menyoroti perilaku para politikus menggunakan filsafat dan sastra, bidang yang diajarkannya di Universitas Negeri Makassar.

Suatu kali, ketika pertama kali bertemu dan berbincang di sebuah kafe pada 2004, Ahyar bertanya apakah Chairil Anwar seorang yang optimistis atau pesimistis. Karena Aan tidak menjawab, Ahyar lalu bilang bahwa penyair yang mati muda itu adalah seorang yang pesimistis. Aku ingin hidup seribu tahun lagi, kata Ahyar, adalah ungkapan pesimistis, bukan optimistis.

Penulis Literasi lainnya yang juga dosen ilmu budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman, mengenang almarhum sebagai dosen muda yang punya pemikiran-pemikiran cemerlang. Pemikirannya dipengaruhi dunia filsafat, tapi tidak meninggalkan aspek sosial. Pemikirannya kemudian dituliskan secara santun dengan gaya sastra.

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Luna Vidya membaca sebuah puisi untuk mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Sudirman H.N. dari Komunitas Masyarakat Sastra Tamalanrea mengatakan Ahyar telah memberikan sumbangan besar, terutama dalam dunia sastra. Almarhum telah melahirkan delapan buku, di antaranya Teori Sastra dan Sosial, Menidurkan Cinta (2007), Kisah Tak Berwajah (2009), serta novel Infinitum (2010) dan Aforisma Cinta (2013).

Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar ini memang sangat produktif menulis. Ia penulis kolom tetap di beberapa media lokal. Di Koran Tempo Makassar, misalnya, Ahyar menjadi penulis tetap setiap Senin. Dalam tulisannya, dia banyak mengkritik perilaku politikus. Tak hanya menulis, Ahyar juga aktif menjadi pembicara dalam sejumlah forum.

A.M. Iqbal Parewangi, senior almarhum saat studi di Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan, di balik kata-kata cinta yang sering diungkapkan, Ahyar sesungguhnya sosok panglima perang. Sementara dulu ia selalu membawa badik, setelah selesai dan menjadi dosen ia membawa pedang samurai. “Jadi jangan melihat Ahyar dengan cara yang linier karena almarhum menguasai filsafat, sosiologi, dan sastra,” tuturnya.

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku 'Kisah Tak Berwajah'. Foto/Irmawar

Kolaborasi Aslan Abidin dan Shinta Febriany membacakan sepenggal karya Ahyar Anwar dalam buku ‘Kisah Tak Berwajah’. Foto/Irmawar

Tak hanya diisi dengan kisah dan testimoni. Ada pula Aslan Abidin—dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra UNM—berkolaborasi dengan Shinta Febriany, sutradara dan penyair, yang membacakan tulisan “Melankoli” dari buku Kisah Tak Berwajah karya almarhum. Ada pula pembacaan puisi oleh Anil Hukma dan Luna Vidya.

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Penampilan Asdar Muis RMS untuk Mengenang Ahyar Anwar. Foto/Irmawar

Aksi tiga menit Asdar Muis RMS juga tak kalah mengharukan. Ia muncul dari belakang layar proyektor, dengan membawa gumbang—tong air dari bahan tanah liat—serta ada baskom besi. Dua wadah itu menjadi tempat pembakaran buku-buku yang dimakan rayap. Dia sedih buku-bukunya dimakan rayap, tapi dia lebih sedih kehilangan sahabat, yakni Ahyar.

Sang istri, Risma Niswaty, juga memberi testimoni malam itu. Menurut dia, suaminya punya kerajaan sendiri di rumah. “Jika sudah masuk ke ruangan itu, lalu pintu diberi tanda ditutup atau celahnya hanya 5 sentimeter, maka kami tahu bahwa tak ada alasan untuk mengganggu, kami membiarkannya merdeka. Agar pikiran-pikirannya tidak terpenjara.” (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 5 September 2013)

Mengenang Pemikiran Ahyar

Kepergian  Ahyar Anwar, Selasa malam lalu meninggalkan luka dalam bagi sahabat-sahabatnya. Untuk mengenang pemikiran-pemikiran sastrawan, budayawan, akasemikusm kolumnis, dan kritikus sastra ini. Komunitas Literasi bersama sahabat-sahabat pria kelahiran 15 Februari 1970 ini akan menggelar acara “Mengenang Ahyar Anwar”, di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar, Senin malam (2/9).

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

Komunitas Literasi Koran Tempo Makassar dari kiri ke kanan : Alwy Rachman, Ahyar Anwar (alm), Aslan Abidin, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany. Foto/Irmawar

“Menjadi penting untuk mengenang sosok dan membaca pemikiran serta karya-karya Ahyar Anwar”, kata  Aslan Abidin,  sahabat yang juga rekan sesame dosen si Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar.

Menurutnya, Gagasan-gagasan almarhum, baik lisan maupun terutama yang tertulis, dapat terus membuka ruang kepada kita untuk menerjemahkan, menganalisis, dan memperdebatkannya. Itulah semestinya salah satu “kewajiban” orang yang hidup kepada intelektual yang meninggal. Sekaligus merupakan tanggungjawab sosial kita bagi semakin terbentuknya masyarakat yang lebih tercerahkan. “Hidup dan meninggalnya Ahyar Anwar memberi kita kesempatan untuk senantiasa berada dalam lingkup intelektual,” ungkapnya.

Dalam acara ini, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Alwy Rachman akan mencoba merefleksi arti kehadiran Ahyar Anwar selama ini.  Selain Alwy, sahabat-sahabat almarhum juga akan bercerita kesan-kesannya dengan almarhum, ada  A M Iqbal Parewangi , Sudirman, dan  Sabri. Istri almarhum Risma Niswaty bersama empat putranya juga akan hadir malam nanti.

Rencananya, karya-karya almarhum juga akan dibacakan. Di antaranya, ada Hendragunawan S.Thayf  serta Mariati Atkah berkolaborasi dengan Madia Gaddafi membacakan tulisan Literasi almarhum yang dimuat di Koran Tempo Makassar, Shinta Febriany berduet dengan Aslan Abidin membacakan salah satu karya dalam buku “Kisah Tak Berwajah”, M Aan Mansyur, Asia Ramli Prapanca, Fahmi Syarif, dan Asdar Muis RMS yang menjanjikan sebuah kejutan. “Saya akan menawarkan sebuah kenangan,” kata Asdar. (By Irmawati, Komunitas Koran Tempo Makassar, edisi 2 September 2013)