Memulai Hal Sederhana dan Menulis

Catatan kecil dari cerita para penulis Makassar.

Dari kiri ke kanan (Andika Mappasomba, Khrisna Pabichara, M Aan Mansyur, Muhary Wahyu Nurba, Asdar Muis RMS, Aslan Abidin)

Dari kiri ke kanan (Andika Mappasomba, Khrisna Pabichara, M Aan Mansyur, Muhary Wahyu Nurba, Asdar Muis RMS, Aslan Abidin)

“Datanglah…nyatakanlah cintamu…katakan bahwa dirimu menginginkan diriku/Datanglah…bawalah bunga-bunga…agar kau dapat membuat diriku terbang/ Aku disini duduk manis menantimu/ Aku pun  ingin membuat kau tak menyesal/ Bahwa kau telah memilih diriku ini yang akan terus membuat hidupmu indah…” begitulah sepenggal lirik lagu berjudul Gelora Asmara ala Groove Bandit.

“Ini kali ke 16, ke 19, lalu ke 21 kalinya lagu Gelora Asmara kedengarkan. Hatiku sedang begitu sekarang,” kata Muhary Wahyu Nurba, penyair dan penulis yang tergabung dalam Masyarakat Sastra Tamalanrea (MTS).  Kalimat itu dilontarkan hampir pada setiap orang yang ditemuinya di sela-sela acara Makassar Writers Day 2013, di Universitas Negeri Makassar, Rabu lalu.

Muhary Wahyu Nurba Foto/Irmawar

Muhary Wahyu Nurba Foto/Irmawar

Bahkan potongan bait lagu ini juga menjadi statusnya facebook pria kelahiran Ujung Pandang (sekarang Makassar) 5 Juni 1972 ini, hari itu. “Dalam laju dengan kecepatan sedang itu saya (sengaja) dibuai lagu Gelora Asmara” ala Groove Bandit. Aih, jiwaku remaja!”

“Kesederhaan itulah yang melahirkan kenikmatan itu,” kata Khrisna Pabichara, penulis novel Sepatu Dahlan, yang juga hadir dalam Temu Penulis Makassar kali ini. Barangkali itulah yang sedang dilakukan Muhary, menyubat telinganya dengan earphone yang tersambung pada alat pemutar musik, lalu menikmati lagu.

Memulai hal sederhana dan menulis. Ya, kita bisa mulai menulis dari hal-hal sederhana. Mulai belajar menulis dengan cara-cara sederhana. Seperti yang dilakukan M Aan Mansyur, penulis kumpulan cerita Kukila (2012). Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982 lalu ini mulai menulis  dengan cara-cara yang sederhana. Ketika kecil, setiap kali ingin meminta sesuatu seperti membeli buku, keinginannya itu disampaikan melalui sepucuk surat yang ditaruh di tempat tidur ibunya. Apa jawabannya ibunya, biasanya akan ditemukan Aan juga melalui sepucuk surat yang akan ditaruh pada bantal tidurnya.

Siang itu di lobi Auditorium Amanagappa, Aan seperti biasa selalu punya cerita baru setiap kali bertemu, perihal komunikasi melalui surat  juga dilakukan dengan pacarnya pertamanya, ketika itu kalau tidak salah dia duduk dibangku sekolah menengah pertama, hampir setiap hari Aan bertemu sang pacar di depan perpustakaan sekedar untuk bertukar surat sebagai pengganti obrolan mereka.

Menulis surat adalah salah satu cara sederhana untuk membiasakan diri menulis, seperti itulah yang dilakukan Aan sejak kecil. Kini ia telah melahirkan beberapa buku di antaranya Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), dan Cinta yang Marah (2009).

Dari kiri ke kanan (M Aan Mansyur, Khrisna Pabichara, Anwar Jimpe Rahman, Muh Ridwan Alimuddin) Foto/Irmawar

Dari kiri ke kanan (M Aan Mansyur, Khrisna Pabichara, Anwar Jimpe Rahman, Muh Ridwan Alimuddin) Foto/Irmawar

Nah, jika ingin menajamkan pisau tentu perlu di asah, menulis juga demikian perlu di asah dengan membiasakan diri membaca. Menurut Aslan Abidin, dengan membaca seseorang dapat menguasai bahasa untuk menyampaikan gagasan, lalu dituangkan dalam bahasa tulis. “Peningkatan minat menulis harus dimulai dari peningkatan minat membaca,” kata penulis yang juga sehari-hari adalah Dosen Bahasa dan Sastra di UNM.

Khrisna Pabichara mengaku dirinya adalah pembaca buku yang rakus, mungkin karena itu dia bisa menghasilkan banyak ide dari hal-hal yang sangat sederhana sekalipun. Pria Kelahiran Borongtammatea, Jeneponto, 10 Nevember 1975 ini saat saya tanya bagaimana ia menjadi penulis. Dengan spontan malam itu ia menunjuk M Aan Mansyur sebagai penyebabnya, ketika itu Agustus 2005 ia berkunjung ke Kafe Baca Biblioholic, dan ia dibiarkan oleh Aan untuk menikmati buku-buku itu, dalam dua pekan ia mampu membaca seluruh koleksi buku  di sana.  Tak berhenti sampai disitu, Aan juga selalu merekomendasikan buku-buku bacaan, kata Khrisna,  dimana pada setiap buku yang dibaca dirinya selalu mendapatkan sesuatu.

Sejak kecil Khrisna terbiasa mendengarkan nyanyian-nyanyian tidur dari neneknya, lalu membaca tulisan-tulisan kakeknya  yang menulis untuk dirinya sendiri. Tapi Khrisna ingin menjadi penulis yang dibaca banyak orang.  Sebelum terkenal seperti sekarang, dia beberapa kali pernah ditolak penerbit, 2001 lalu tiga penerbit besar menolaknya dengan alasan dirinya belum punya nama, tapi itu tidak membuatnya berhenti. “Sekarang persoalannya mau tidaknya jadi penulis.”

Asdar Muis RMS

Asdar Muis RMS

Lain lagi cerita Asdar Muis RMS, penulis yang juga esais dan budayawan satu ini selalu muncul dengan cara yang tak biasa dan pastinya akan menyita perhatian. Disela-sela Makassar Writers Day ini, ia kembali berulah, duduk bak penjual obat menawarkan bukunya  dengan diskon 50 persen. “Minyak Tanah dari Tanah” salah satu judul esai dari buku Tuhan Masih Pidato dibacakan dan membuat para mahasiswa mengerumuninya. Laris manis pastinya, toh di toko buku ini harus ditebus dengan harga seratus ribu.

Selain mereka beberapa penulis juga turun membagi inspirasi pada mahasiswa seperti Dul Abdul Rahman, Andika Mappasomba, Muh Ridwan Alimuddin,  dan Ahyar Anwar yang selalu hadir dengan rangkaian kata-kata bertema cinta. Siapa tahu cerita-cerita ini bisa menjadi inspirasi untuk mulai menulis. (Me, Komunitas KTM, 22 Maret 2013)

1 Comment

  1. March 29, 2013 at 12:03 pm

    […] Catatan: Beberapa informasi dalam tulisan di atas saya ambil dari tulisan sahabat saya Irmawar, yang juga hadir dalam acara temu penulis, dalam blog-nya. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: