Merdeka, Reformasi, dan Literasi

Irmawati Puan Mawar

Bergiat di Komunitas Literasi Makassar

Irmawati Puan Mawar

Merdeka itu bukan sekedar kosakata. Merdeka itu bukan slogan yang harus dirayakan, tapi perlu dirasakan. “Saya baru merasa merdeka ketika gerakan literasi masuk ke Papua, ketika anak-anak kami bisa bebas menikmati bacaan,” kata Agus Mandiwen, sehari sebelum Reformasi genap berusia 18 tahun.

Bangsa ini sudah merdeka, jauh sebelum Pace Agus—begitu kami memanggilnya—lahir.  Tapi rasa merdeka baru dirasakannya, setahun terakhir.  Rasa merdeka itu tak dinikmatinya sendiri, ia membaginya dengan cara membawa buku-buku yang beratnya puluhan kilogram dalam noken—tas khas Papua yang terbuat dari serat kulit kayu yang dibawa dengan mengaitkannya di kepala.

Pace Agus adalah penggerak Noken Pustaka, salah satu Pustaka Bergerak yang memburu pembacanya.  Ia berjalan kaki menjangkau pedalaman-pedalaman terpencil di Manokwari dengan beban berat dalam noken.

Sehari sebelum Reformasi genap berusia 18 tahun. Pace Agus dan Safei dari Noken Pustaka kembali berbagi dalam ajang Makassar International Writers Festival. Bersama Muhammad Ridwan Alimuddin penggerak Perahu Pustaka dan Nirwan Ahmad Arsuka dalam perbincangan yang mengangkat tema Reformasi dan Literasi.

Mereka bukanlah orang-orang yang punya kuasa dan kedudukan. Pace Agus adalah atlit angkat besi yang menganggur, Safei orang Sumatera yang terdampar di Papua sebagai guru di daerah terpencil, Ridwan adalah tukang foto sekaligus tukang video yang meninggalkan kerja tetapnya di sebuah kantor media.

Dalam epic-mitologis La Galigo, alam semesta selalu bermula dengan munculnya To Manurung—tokoh besar yang turun dari langit dan membentuk dunia. Tapi Pustaka Bergerak, kata Nirwan adalah kisah To Tompo, tokoh-tokoh kecil yang muncul dari bawah, dari akar lumut, yang bergerak dan bermain mengubah lingkungan di sekitarnya. Dimulai dengan hal yang sederhana pada diri sendiri.

Kadang kita berfikir hal-hal yang terlalu tinggi, jauh, dan berskala besar. Padahal, realitas di lapangan, masih banyak kekosongan yang harus diisi. Seringkali kita abai pada tindakan-tindakan sederhana yang bisa sangat berarti.

Bagi sebagian orang, bisa menikmati bacaan dari halaman-halaman buku yang beraneka ragam adalah sebuah kemerdekaan. Sebuah buku ibarat jendela kecil, tempat dimana kau bisa menemukan dunia yang lebih luas.

Di era revolusi teknologi dan informasi ini, listrik dan buku adalah dua tanda kemerdekaan.  Begitu Nirwan Ahmad Arsuka, penanggungjawab Pustaka Bergerak dalam naskah pidatonya saat pembukaan MIWF 2016, di Fort Rotterdam Makassar, 18 Mei lalu. Menurut Nirwan, keduanya membantu manusia membebaskan diri dari cengkaraman kegelapan: kegelapan lahir dan batin.

Buku yang bagus  bisa jadi sejenis jalur hipotetis lubang cacing (worm hole) yang bisa membawa pembacanya tersedot masuk berpindah ke ruang dan waktu yang lain. Jika pun pembacanya tak beranjak dari tempatnya, dunia dan jaman yang ada di buku itu dapat hadir menjelmakan diri merengkuh si pembaca.

Dengan buku, masih kata Nirwan, kekuatan kognitif manusia mengalami metamorfosis yang mungkin pelan namun akhirnya membuatnya sanggup bahkan untuk membayangkan dan sampai batas tertentu mewujudkan sendiri alam semesta yang lain, yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Sehari sebelum Reformasi genap berusia 18 tahun. Dalam perbincangan yang mengangkat tema Reformasi dan Literasi. Jika Anda hadir, mungkin kita bisa bersepakat bahwa Reformasi  tak melulu harus terlibat dalam dunia politik atau turun ke jalan dan berdemo. Seperti hari-hari ini yang masih banyak diprakterkkan sebagian mahasiswa di Makassar.

Usai perbincangan itu, dan hingga artikel ini saya tuliskan, pikiran saya masih dipenuhi pertanyaan. Kenapa hari-hari ini, masih banyak mahasiswa yang melakukan cara-cara  ‘primitif’, menyuarakan dan memprotes sesuatu dengan cara berdemo di jalan yang berpeluang besar mengganggu kepentingan umum.

Pikiran saya yang masih dipenuhi pertanyaan, juga mengait-ngaitkan. Antara, cara sebagian mahasiswa memaknai reformasi yakni berdemo. Dengan ketertarikan mahasiswa ikut dalam perbincangan dengan orang-orang yang tak punya kuasa dan kedudukan ini. Program MIWF yang digelar di salah satu kampus di Makassar ini, awalnya hanya diikuti tiga mahasiswa. Barulah setelah ada ancaman akan ‘dicatat’ oleh dosen, peserta diskusi pun bertambah hingga mencapai 30-an orang.

Para To Tompo ini berbagai tentang kerja-kerja kreatif, memanfaatkan potensi diri, melibatkan orang-orang di sekitar kita, yang bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Reformasi memang harus dimulai pada diri sendiri. (Literasi di Tribun Timur, edisi  30 Mei 2016)

Literasi 30 Mei 2016

%d bloggers like this: