Sapardi Membumikan I La Galigo

Sapardi Djoko Damono

Membumikan Kisah I La Galigo

The Birth of I La Galigo adalah kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang diadaptasi dari kisah I La Galigo, hasil terjemahan almarhum Muhammad Salim. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2005 oleh Yayasan Lontar. Puisi pria kelahiran Solo, 20 Maret 1940, ini kemudian diterjemahkan oleh John H. McGlynn ke dalam bahasa Inggris. Agar karya sastra I La Galigo ini semakin dikenal luas oleh publik, Rumata’, dalam penyelenggaraan ketiga Makassar International Writers Festival 2013, mendapat kesempatan untuk menerbitkan ulang buku ini.

Seperti apa proses pembuatan puisi-puisi ini, penulis puisi Hujan Bulan Juni (1989) ini menuturkannya saat wawancara khusus bersama Irmawati dari Koran Tempo Makassar, di sela-sela ajang MIWF, Rabu dan Kamis lalu.

Bersama Sapardi Djoko Damono di Fort Rotterdam, Juni 2013

Bersama Sapardi Djoko Damono di Fort Rotterdam, Juni 2013

Bagaimana ceritanya sampai tertarik membuat puisi yang diadaptasi dari cerita sastra klasik I La Galigo?

Kebetulan saya mendapat buku terjemahan dari Muhammad Salim (almarhum). Menarik sekali, mulai dari kisahnya, lalu ada banyak adegan-adegan yang tersirat. Saya berusaha sebaik mungkin melihat dan menghayati semangat terjemahannya. Beberapa adegan itu kemudian saya tulis berdasarkan kemampuan saya untuk menulis puisi. Saya tertarik membuatnya karena kisah itu lagi naik daun dengan adanya pertunjukan teater kolosal kontemporer oleh sutradara Robert Wilson. Dan kebetulan ada sponsor yang menerbitkannya.

Menurut Anda, apa kisah yang paling berkesan dalam cerita I La Galigo?

Semua bagian yang menarik, saya tuliskan menjadi puisi, dari penciptaan, turunnya Batara Guru, kelahiran I La Galigo, perkawinannya, perang di laut, lalu di gelanggang.

Meski sudah diterjemahkan, dalam cerita I La Galigo ini kita tetap menemukan banyak istilah lokal. Ada kesulitan dengan itu?

Tentu, karena itu panduan Pak Salim saat itu penting sekali menjelaskan pengertiannya, termasuk menjelaskan nama-nama benda. Sebab, kalau tidak ada, pasti akan repot. Penjelasan itu juga harus ada dalam buku puisi ini.

Berapa lama sih proses pembuatan puisi I La Galigo ini?

Agak lama. Sebab, saya harus mengerti dulu bagian mana yang harus dijelaskan, mengerti konsep ceritanya. Saya mulai bekerja dari situ, kesulitannya saat bekerja, misalnya satu tokoh bernama Sawerigading itu memiliki nama yang bermacam-macam. Proses pengerjaan persisnya mungkin tidak lebih dari empat bulan.

Dalam cerita I La Galigo banyak lanturan, sebab tradisi lisan memang tidak dapat mengontrol pengulangan. Seperti dalam menyebutkan nama tempat, menyatakan kecantikan dan keperkasaan orang secara berlebihan. Hal serupa terjadi pada kisah Ramayana, kisah dalam naskah Jawa, Melayu, bahkan Yunani. Saya berusaha memangkas itu semua sehingga tidak terjadi pengulangan. Tapi ini sekaligus menunjukkan, ketika kisah ini ditulis, yang menulisnya masih dikuasai tradisi lisan.

The Birth of I La Galigo itu seperti cerita. Puisinya panjang-panjang, berbeda dengan sajak-sajak Anda yang relatif singkat…

Ini kan puisi naratif, jadi memang harus bercerita sehingga yang baca bisa mengetahui alur cerita singkat dari kisah yang diceritakan. Kalau puisi singkat itu harus lebih banyak mikir, jadi prosesnya lebih panjang. Tapi bukan berarti menulis puisi panjang itu mudah.

Menurut Anda, pesan apa yang ingin disampaikan lewat kisah I La Galigo ini?

Kisah ini berbicara mengenai kosmologi orang Bugis. Bagaimana asal-usulnya? Lalu seperti apa kebiasaan-kebiasaan tradisi saat itu.

Cerita ini panjang, nyaris kisah ini tidak membumi alias kurang dikenal masyarakat, termasuk oleh suku Bugis-Makassar.

Memang tidak banyak orang yang bisa membaca aksara Lontarak. Saya kira peran Pak Salim dalam menerjemahkannya sudah sangat membantu. Tapi karena cerita ini sangat panjang, perlu ada yang membaca lalu meringkas, kemudian menuliskannya dalam bahasa Indonesia, untuk kemudian dikenalkan ke sekolah-sekolah agar dikenal generasi muda. Atau bisa juga menuliskannya dalam bentuk puisi yang lebih komunikatif. Saya kira ini bagus sebagai bacaan.

Hampir semua sajak-sajak Anda bisa dinyanyikan. Bagaimana dengan The Birth of I La Galigo ini?

Puisi bagi saya adalah nyanyian, jadi harus memiliki irama. Dan itu sudah tertanam dalam benak saya, menulis puisi mesti berirama. Banyak orang juga dengan gampang membuat musikalisasi puisi saya, terutama puisi-puisi awal. Khusus kisah I La Galigo relatif sulit karena panjang, sehingga cocoknya dijadikan drama. Tapi jika ingin dinyanyikan, cukup potongan-potongan sajaknya, diambil yang puitis.  (By Irmawati, Koran Tempo Makassar, edisi 29 Juni 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: