Sepenggal Kenangan di Tochigi dan Sendai

Meski sempit, jalan-jalan di Jepang sangat bersahabat bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Pemandangan kota dari kantor Prefektur Tochigi, Jepang. Foto/Irmawati

Senja berkabut menyambut kedatangan kami di Utsunomiya Prefektur (Provinsi) Tochigi, Jepang, akhir Juni lalu. Gemerincing lonceng sepeda dan klakson bus saling bersahutan diiringi gerimis hujan. Keteraturan dan keramahan kota ini nyaris tak terpengaruh krisis Jepang pascabencana 11 Maret di kawasan Jepang Timur.

Sebenarnya sudah lama saya ingin mengenal Jepang dari dekat, keinginan itu sudah ada sejak saya sering melihat tayangan serial Oshin di televise, termasuk  menyentuh salju dikala musim dingin, mengenakan kimono bak Geisha, serta menyaksikan bunga Sakura yang mekar dikala musim semi. Bersama rombongan peserta pertukaran pemuda Jepang-Indonesia JENESYS, saya mengunjungi Jepang kala musim panas dengan sedikit khawatir, terhadap gempa yang selalu menghantui dan radiasi nuklir dari Fukushima. Tapi semua kekhawatiran itu hilang melihat kesiapan warga dan kondisi rill Negeri Matahari Terbit ini.


Fukube Artwork yakni karya seni berupa labu buatan kota Utsunomiya. Konon ini dipercaya bisa menagkal nasib buruk.Karya seni dipamerkan di kantor Prefektur Tochigi, Jepang. Foto/Irmawati

Malam datang seiring udara dingin, badan saya masih terasa lelah. Tapi saya tak mau melewatkan malam ini  untuk mengenal Tochigi, karena kami hanya menginap semalam di kota ini.  Berbekal buku saku yang berisi beberapa contoh percakapan dalam bahasa Jepang, saya memberanikan diri untuk berjalan sendiri. Saya memilih berjalan kaki, untuk bisa lebih dekat, lagian jalan di kota ini sangat bersahabat bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Saya sempat masuk ke sebuah mal Lala Utsunomiya, tapi saya tak sempat berkeliling, malnya sudah harus tutup.

Di Jepang, pusat-pusat perbelanjaan tutup lebih awal, paling lambat pukul 21.00 waktu setempat. Konon ini sebagai salah satu bentuk penghematan energy yang dilakukan pasca kerusakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Fukushima. Berbatasan langsung dengan Tochigi dibagian utara, sehingga terkena dampak yang cukup besar karena 90 persen kebutuhan listrik diwilayah ini dipasok dari Fukushima. Selain itu, sector pertanian juga terkena dampak akibat terpapat radiasi nuklir, akibatnya beberapa produksi pertanian merosot seperti stroberi. Tetapi semua sudah berhasil ditanggulangi, dan produksi pertanian dari Tochigi saat ini sudah aman untuk dikonsumsi.

Saya melanjutkan perjalanan menyusuri jalan, dibeberapa lokasi nyaris tak ada penerangan lampu jalan sehingga menimbulkan sedikit rasa was-was karena suasana remang-remang. Beberapa sepeda terparkir rapi di trotoar, semakin mendekati stasiun Utsunomiya, jumlah sepeda yang terparkir semakin banyak. Nafas saya cukup ngos-ngosan setelah berjalan cukup lama, ditambah udara dingin dan kelembapan yang cukup tinggi. Saya menarik napas sejenak sambil beristirahat di taman yang terletak  di depan stasiun. Aneka bunga berwarna warni mempercantik taman ini, ditambah kolam kecil dan tugu dengan beberapa patung manusia bugil. Tak jauh dari tempat saya duduk, sepasang remaja terlihat masih asyik berbincang. Sementara suasana semakin sepi, jalan-jalan semakin lengang.  Saya memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan tidur lebih awal.

Suasana parkiran sepeda di depan Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. Foto/ Irmawati

Pagi berkabut mengambut kami, tetapi tak lama udara langsung hangat oleh pancaran matahari. Saya dan beberapa teman memilih sarapan lebih awal, agar bisa memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan  pagi. Menggunakan sepeda untuk berkeliling kota pasti lebih asyik. Karena dijalan-jalan disiapkan jalur khusus bagi pengguna sepeda, lihat saja petunjuk rambu bergambar sepeda, gambar serupa juga ada diaspal yang bersebelahan dengan zebra cross.

Tidak sulit untuk mencari penyewaan sepeda di Jepang, karena sejak Oktober 2010, Kementerian Lingkungan Jepang  menyiapkan penyewaan sepeda untuk mendorong penggunaan sepeda guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Para pengguna akan dikenakan biaya sewa sebesar Rp 1.000 yen untuk pemakaian selama 30 menit. Hal ini sejalan dengan programnya yang bermotto motto “eco cycle city”.

Sistem rental adalah salah satu solusi untuk mengurangi sepeda yang diparkir di tempat-tempat umum. Pengguna bisa menikmati fasilitas rental dengan membayar iuran keanggotaan. Pusat jasa rental ini tak jauh dari stasiun, sepedanya banyak diparkir di luar stasiun kereta, seperti di Stasiun Utsunomiya. Penyewa dapat menggunakan salah satu sepeda untuk pulang ke rumah. Keesokan harinya sepeda itu kembali digunakan ke stasiun. Selanjutnya sepeda yang sama bisa dipakai penyewa lainnya untuk bekerja atau ke sekolah. Sistem ini dinilai efektif karena bisa mengurangi jumlah sepeda yang terlalu banyak di sekitar stasiun dan secara otomatis juga menngurangi tempat parkir yang harus disiapkan.

Salah satu tanda di jalan yang menunjukkan jalur sepeda di Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang. Foto/Irmawati

Di Jepang, sepeda dikenal dengan sebutan jitensha atau bahasa gaulnya charinko. Sepeda banyak digunakan untuk kehidupan sehari-hari oleh semua kelompok usia dan strata social. Mulai berangkat ke sekolah, bekerja atau ke stasiun kereta api terdekat, menjemput anak dan berbelanja. Lelaki berdasi lengkap dengan jas  atau perempuan menggunakan gaun dan mengenakan sepatu berhak tinggi mengendarai sepeda adalah pemandangan biasa di Jepang. Sepeda yang umum digunakan adalah jenis keikai jitensha (sepeda kelas ringan) yang populer dikalangan anak-anak muda dengan sebutan mama charin, karena kaum ibu suka sekali menggunakannya.

Bangunan kantor lama Prefektur Tochigi, Jepang. Foto/Irmawati

Hari ini aktivitas dimulai dengan mendatangi kantor Prefektur Tochigi. Dari atas gedung, pemandangan kota terlihat begitu rapi. Di tempat ini saya juga bisa menyaksikan beberapa kerajinan khas daerah ini diantaranya Fukube Artwork  yakni karya seni dari kota Utsunomiya yang berbentuk labu dan dipercaya bisa menangkal nasib buruk. Kibuna Ikan yakni mainan yang merupakan ikon Utsunomiya, masyarakat setempat percaya dengan memakan ikan maka penyakit yang diderita bisa sembuh. Ada juga Geta yakni sandal bakiak kayu Jepang, Tochigi adalah salah satu dari tiga lokasi produksi Geta terbesar di Jepang.

Dua pengunjung sedang memilih tanaman bunga di Romantic Village PT Farmer's, di Prefektur Tochigi, Jepang. (Foto/Irmawati)

Kami juga mengunjungi Romantic Village, saya sangat senang karena baru menuju jalan masuk kami sudah disambut bunga-bunga cantik yang tumbuh di pinggir jalan. Saya menemukan aneka jenis bunga yang sedang bermekaran, beberapa yang cukup familiar yakni mawar, anggrek, krisan dan tulip. Kebanyakan saya tak tahu jenisnya, saya juga kesulitan untuk membaca namanya karena menggunakan huruf kanji. Di Tochigi ada satu tempat dijuluki sebagai surga bunga yakni di taman bunga Ashikaga. Saat musim semi tiba, sebanyak 290 wisterias mekar, dan dimusim panas waktunya bunga lili air tropis mekar.

Romantic Village di Tochigi juga menawarkan bir lokak yang diseduh menggunakan gandum lokal. Terdapat tiga jenis bir yakni Mugitaro rasanya pahit, Mugijiro memiliki rasa menyegarkan dan renyah, dan Gyozaroman rasanya juga menyegarkan dan sangat khas. Jika ingin mengetahui detail proses pembuatan bir, kita bisa mendatangi Kafe Gallerry. Bir dibuat dari arak beras Jepang, ditempat ini kita juga bisa mencicipi kopi dan es krim yang terbuat dari air murni yang juga diperlukan untuk membuat sake.

Tochigi juga menawarkan beberapa event menyenangkan di langit yakni Oyama Summer Festival dan Watarase Balloon Race. Festival Oyama yakni pesta kembang api saat musim panas, di District (kabupaten) Kanto,  sebanyak 20 ribu kembang api dilambungkan ke langit. Sementara Race Balon Watarase diselenggarakan saat musim bunga sakura bermekaran, kita juga bisa menyaksikan pemandangan indah di udara yang dihiasi banyak balon udara panas.

Sendai. Foto/Irmawati

Kami melanjutkan perjalanan ke kota Sendai, kami menggunakan Shinkansen atau kereta bullet yakni kereta super-express Jepang yang dikagumi oleh seluruh dunia. Jarak Tochigi ke Sendai sekitar 350 kilometer, jarak ini hanya ditempuh sekitar satu jam menggunakan Shinkansen. Karena kecepatan lebih dari 200 km / jam sampai maksimal 300 km / jam. Kita aman dan bisa cepat sampai ke jarak yang jauh. Tiketnya setara dengan tiket pesawat terbang, dari Tochigi ke Sendai saya harus membayar 8.500 yen atau sekitar Rp 850 ribu. Shinkansen pertama beroperasi tahun 1964 dengan jalur Tokyo-Osaka, kini layanannya sudah menghubungkan hamper semua kota besar di Jepang. Transportasi ini menjadi favorit untuk perjalanan bisnis ataupun tamasya, karena stasiun tujuan langsung di tengah kota. Sementara bandara, berada dipinggir kota, sehingga membutuhkan waktu untuk perjalanan darat dari bandara ke pusat kota.

Sendai menyambut kami dengan keramaian dan kesibukan warganya, saya tak melihat sedikitpun bekas, kota ini pernah diguncang gempa hebat. Kota ini begitu hidup, pemandangan di depan stasiun begitu berwarna, mulai orang tua dan anak remajanya berpenampilan berani dan unik. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Membawa tas jingjing yang cukup berat, kami berjalan kaki menuju tempat penginapan kami. Seperti hotel-hotel sebelumnya yang kami tempati, disini kami juga mendapat pengarahan mengenai jalan darurat dan tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa.

Tempat pengungsian korban Tsunami 2011 di Iwanuma, Sendai, Jepang. Foto/Irmawati

Kota terbesar di wilayah Tohoku atau Timur Laut ini sangat akrab dengan gempa. Keesokan paginya, tepatnya 23 Juni 2011, kami disambut gempa berkekuatan 6 skala Richter. Saya tak begitu merasakannya, karena kebetulan saya sedang berjalan-jalan keliling kota berjuluk “Mori no Miyako” karena penghijauannya yang melimpah, lihat saja jalan-jalannya dengan deretan pohon. Warga kelihatannya sudah akrab dan terbiasa dengan gempa semacam ini, aktivitas mereka sama sekali tak terusik.

Seperti Tochigi, Sendai juga sangat nyaman untuk bersepeda, apalagi dengan deretan pohon ditepi jalan akan membuat udara makin sejuk, terutama saat musim panas seperti sekarang ini. Beberapa fasilitas bagi pengguna sepeda disiapkan, seperti parkiran khusus yang dilengkapi layar yang menunjukkan durasi waktu parker.Para pengendara sepeda di Jepang betul-betul dimanjakan oleh fasilitas. Agar masyarakat memilih sepeda untuk sarana transportasi, pemerintah menyediakan tempat parker sepeda yang aman dan canggih, karena kasus pencurian sepeda juga cukup besar. Pengoperasian tempat parkir Eco Cycle ini tergolong mudah.

Andai kami bisa tinggal lebih lama, mungkin kami bisa menyaksikan festival Tanabata Matsuri  atau memuja bintang yang diselenggarakan pada 7 Juli. Konon ini salah satu festival musim panas yang berskala besar di Tohoku. Festival ini berasal dari legenda China yang menggambarkan pertemuan setahun sekali antara bintang altair (Kengyusei) dan bintang vega (Shokujosei) yang menyeberangi sungai Amanogawa. Saat penyelenggaraan festival ini, maka orang-orang memajang kertas kecil yang bertuliskan harapan mereka, kemudian dipasang pada ranting pohon bambu.

Sejumlah penumpang bus terlihat begitu rapi menunggu armada kendaraan datang, di Sendai, jepang. Foto/Irmawati

Senja menutup perjalanan kami di Sendai dan mengantar kami ke stasiun. Kami akan kembali menggunakan Shinkansen menuju Tokyo. (By Irmawati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: